Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) memperkuat kapasitas manajerial dan branding digital BUMDes Puncak Sosok melalui program bertajuk “Peningkatan Kapasitas Manajerial dan Branding Digital BUMDES Puncak Sosok melalui Pendampingan Psikologi Komunitas dan Pengembangan Website Terintegrasi” pada Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan tersebut merupakan Program PkM skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat untuk Pengabdian Masyarakat Pemula tahun pendanaan 2026 yang didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta dilaksanakan sejak April hingga Agustus 2026. Memasuki tahap akhir, hampir seluruh rangkaian kegiatan telah diselesaikan dan program kini berada pada tahap penyelesaian serta pelaporan.
Tim Pengabdian terdiri dari Angelina Dyah Arum Setyaningtyas, M.Psi., Psikolog dari Program Pendidikan Profesi Psikolog UMBY, dengan anggota Albert Yakobus Chandra, S.Kom., M.Eng., MTA., MCE., MCF.dari Program Studi Sistem Informasi dan Dewi Soerna Anggraeni, M.Psi., Psikolog dari Program Studi Psikologi. Program juga melibatkan mahasiswa Pendidikan Profesi Psikolog UMBY dalam pendampingan di lapangan.

Sebelum pendampingan dilakukan, pengelolaan wisata berbasis komunitas ini dihadapkan pada sejumlah kendala teknis di lapangan. Selama ini, operasional destinasi sangat mengandalkan semangat gotong royong warga semata. Akibatnya, aspek vital seperti pembagian tugas, penjadwalan, alur pelayanan, pencatatan, hingga manajemen risiko belum berjalan optimal. Dari sisi promosi, Puncak Sosok juga belum memiliki rumah digital yang terintegrasi dan hanya mengandalkan platform Instagram.
Ketua Tim Pengabdian UMBY, Angelina Dyah Arum Setyaningtyas, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa pihaknya menggunakan pendekatan psikologi komunitas dalam program ini.
“Puncak Sosok tumbuh dari kekuatan masyarakat. Karena itu, pengembangan teknologi perlu berjalan bersama dengan penguatan kapasitas pengelolanya. Melalui pendekatan psikologi komunitas, kami mendorong komunikasi, partisipasi, kerja sama, dan rasa memiliki masyarakat. SOP dan website menjadi perangkat pendukung, tetapi keberlanjutannya tetap bertumpu pada masyarakat,” jelas Angelina.
Untuk menjawab kendala yang ada, tim UMBY yang melibatkan lintas program studi membagi fokus pendampingan. Dewi Soerna Anggraeni, M.Psi., Psikolog, memberikan pelatihan manajemen berbasis psikologi komunitas, dengan fokus pada strategi membangun komunikasi dan kolaborasi bersama pamong desa guna memperluas partisipasi warga.
“"Pengembangan wisata tidak bisa berjalan sendiri. Kami berfokus membangun komunikasi dan kolaborasi yang kuat dengan pamong desa agar ruang partisipasi masyarakat dalam mengelola Puncak Sosok semakin luas." ujarnya.
Sementara itu, Angelina memfasilitasi penyusunan dan implementasi Standar Operasional Prosedur (SOP). Hasilnya, Puncak Sosok kini memiliki empat pedoman operasional baku yang dampaknya langsung terasa, yakni SOP Pengelolaan Acara, SOP Pengelolaan Kuliner, SOP Pengelolaan Layanan, dan SOP Kedaruratan. Kehadiran empat SOP ini sukses mengubah kebiasaan kerja pengelola dari yang berbasis "pengalaman dan kebiasaan" menjadi prosedur yang jelas, terstruktur, dan terdokumentasi.
Dari aspek teknologi, Albert Yakobus Chandra, S.Kom., M.Eng., MTA., MCE., MCF. merancang sekaligus melatih lima orang pengelola untuk mengoperasikan website terintegrasi.
"Infrastruktur digital harus diimbangi dengan kecakapan penggunanya. Pelatihan teknis ini dirancang agar pengelola tidak hanya memiliki website, tetapi juga mampu mengoperasikan dan mengelolanya secara mandiri," kata Albert Yakobus Chandra.
Kini, Puncak Sosok resmi memiliki alamat situs web sendiri di https://puncaksosok.com/. Situs ini hadir sebagai pusat informasi dan branding digital yang memuat profil destinasi, potensi wisata, rincian layanan, galeri, hingga kanal kontak yang melengkapi promosi media sosial mereka.
Perubahan sistem kerja ini disambut baik oleh masyarakat pengelola wisata setempat. Koordinator Pengelola Puncak Sosok, Rudi Haryanto, menyebut bahwa pendampingan dari UMBY memberikan dampak nyata bagi tim di lapangan.
“Pelatihan manajemen ini sangat membantu kami meningkatkan kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat, sehingga keterlibatan warga dalam pengelolaan diharapkan makin tinggi. SOP kami juga jadi lebih terdokumentasi dengan baik. Dengan adanya website baru, kami berharap Puncak Sosok semakin dikenal masyarakat luas,” ungkap Rudi.
Melalui kolaborasi erat antara perguruan tinggi dan masyarakat ini, Puncak Sosok diharapkan tidak hanya mampu bertahan, tetapi terus berkembang menjadi destinasi wisata berbasis komunitas yang mandiri dan berkelanjutan.