Langkah Hanin, sapaan akrabnya memilih UMBY bukan tanpa alasan. Berawal dari rekomendasi orang terdekat, ia menemukan fakta bahwa lulusan FTI UMBY memiliki reputasi yang sangat bersaing.
"Bahkan ada alumni sini yang pernah membimbing mahasiswa PTN ternama dalam proyek pemodelan pemrograman. Dari situ saya makin yakin dengan kualitas UMBY," ungkap Hanin dengan bangga.
Kecemasan biaya sempat menghantuinya di awal pendaftaran. Kekhawatiran bahwa kuliah di PTS mahal perlahan sirna ketika ia dinyatakan lolos sebagai penerima Beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K). Lewat beasiswa ini, 100% biaya pendidikan (SPP/UKT) langsung disalurkan ke pihak universitas, ditambah adanya bantuan biaya hidup bulanan yang sangat membantunya mandiri secara finansial.
Ekspektasi awal Hanin tentang biaya kuliah ternyata meleset. Sebelum menjadi mahasiswa, ia mengira beban terberat ada pada SPP atau uang gedung. Kenyataannya, pengeluaran terbesar justru terletak pada kebutuhan operasional harian dan penunjang tugas perkuliahan. Sebagai mahasiswa KIP-K, Hanin dituntut untuk cerdas mengelola bantuan biaya hidup yang ia terima.
"Selama bisa menjaga gaya hidup tetap terukur dan tidak tergiur perilaku konsumtif, pengeluaran bulanan sebenarnya masih sangat bisa dikendalikan. Rasa terasing atau kena FOMO jujur tidak terlalu saya rasakan. Keinginan buat ikut tren atau gaya hidup tertentu itu wajar di usia mahasiswa, tapi saya selalu ingat batas dan prioritas kebutuhan utama," jelasnya.
Beban untuk mempertahankan beasiswa dengan syarat IPK minimal 2.75 justru ia ubah menjadi bahan bakar motivasi. Alih-alih merusak kesehatan mental, tekanan tersebut membuatnya lebih disiplin dalam manajemen waktu belajar, bahkan ia pun turut partisipasi menjadi tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dan lomba inovasi digital lainnya. Ini terbukti ketika semester 4 lalu ia mendapatkan IP 3.88.
Bagi Gen-Z, kerja sampingan sudah menjadi gaya hidup. Meski belum mengambil pekerjaan purna waktu demi menjaga fokus akademik dan organisasi, Hanin tetap produktif mencari penghasilan tambahan yang sejalan dengan jurusannya, seperti menjadi asisten dosen yang memberikannya penghasilan tambahan sekaligus kesempatan memperdalam materi kuliah.
Hanin mengakui, menyeimbangkan kuliah dan 'cari cuan' sempat membuatnya berada di fase nyaris burnout.
"Dari situ saya sadar, memaksakan diri berlebihan justru bikin hasil merosot. Kuncinya kembali ke skala prioritas dan menyusun jadwal harian agar kesehatan serta nilai kuliah tidak dikorbankan," tuturnya.
Baginya, seorang mahasiswa diukur dari karya dan pencapaian, bukan dari barang yang dipakai. Untuk menghindari jebakan finansial, Hanin menerapkan dua strategi utama yakni mencatat arus keuangan menggunakan aplikasi di ponsel agar selalu terpantau dan menerapkan aturan Jeda 7 Hari, kalau setelah seminggu keinginan membeli barang non-esensial itu hilang, berarti barang itu memang tidak benar-benar dibutuhkan.
Dari kacamata Hanin, definisi paling realistis dari 'Merdeka Keuangan Pendidikan Kuliah' adalah ketika seorang mahasiswa bisa sepenuhnya fokus menuntut ilmu dan mengejar mimpi tanpa harus terhenti oleh kendala biaya.
"Bisa kuliah tenang tanpa memikirkan tagihan SPP atau uang gedung adalah bentuk kemerdekaan belajar yang sangat nyata buat saya," tegasnya.
Bagi calon mahasiswa yang masih ragu melangkah karena kendala biaya, Hanin memberikan satu realita pahit sekaligus saran aplikatif yaitu beasiswa bukanlah jalan pintas yang menanggung seluruh urusan hidup, mahasiswa tetap harus berjuang keras dan bertanggung jawab mengelola biaya hidup sehari-hari.
"Mulailah bergerak dari sekarang. Rajin cari informasi beasiswa, asah manajemen waktu, dan terus upgrade kapasitas diri. Jangan cuma menunggu, karena doa yang kuat harus diimbangi dengan aksi nyata," pesannya.
Ke depannya, Hanin berharap dapat lulus tepat waktu dengan IPK memuaskan dan menerapkan ilmunya untuk masyarakat. Pengalaman berada di posisi sulit secara finansial memberikannya dorongan kuat untuk melakukan giving back, agar kelak makin sedikit anak muda yang harus memendam mimpi kuliah hanya karena urusan biaya.