Mahasiswa dapat berprestasi melalui berbagai cara, baik itu secara akademik ataupun nonakademik. Baru-baru ini, mahasiswa Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) berhasil mendapatkan prestasi nonakademik di bidang olahraga beladiri. Ia adalah Muhammad Harits Zahry, mahasiswa Psikologi yang telah berhasil meraih medali emas dalam Kejuaraan Internasional.
Pada 31 Juli hingga 3 Agustus 2025, 2nd Tapak Suci World Championship 2025 berlangsung di GOR Pertamina Universitas Brawijaya, Malang. Kejuaraan tersebut diikuti lebih dari 700 atlet dari 24 negara. Para atlet bersaing secara ketat untuk memperebutkan juara dalam beberapa kelas dan kategori seperti pencak silat olahraga, bebas beregu putra, bebas beregu putri, dan pencak silat seni.
Harits berhasil mendapat medali emas pada kategori pencak silat seni untuk kelas ganda putra tangan kosong. Ia menampilkan peragaan jurus serang bela tangan kosong secara berpasangan yang mengangkat nilai-nilai gerak dan keindahan seni bela diri Tapak Suci Putera Muhammadiyah.
Harits dan pasangan lombanya berhasil tampil secara harmonis memperagakan berbagai teknik serangan dan pertahanan tangan kosong secara terkoordinasi dengan gerakan yang lincah, kuat, serta kompak. Gerakan-gerakan tersebut tidak hanya menunjukkan keahlian bela diri, tetapi juga menampilkan aspek estetika dan filosofi Tapak Suci, yang mengedepankan nilai sportifitas, etika, dan keharmonisan dalam setiap gerakannya.
Ia menceritakan penampilannya berlangsung selama tiga menit dengan diiringi musik tradisional yang memberikan nuansa khas budaya Indonesia, sekaligus menegaskan identitas Tapak Suci sebagai pencak silat yang menggabungkan seni dan sportivitas.
Harits mengaku, meskipun sudah sering mengikuti kejuaraan pencak silat sejak bangku SMP tetapi untuk kejuaraan internasional ini merupakan kali pertamanya.
“Tetap tenang, fokus, dan rajin berlatih untuk menyinergikan gerakan adalah kunci kami untuk bisa meraih juara ini,” ungkap Harits.
Penilaian juara ini berdasarkan 3 unsur yaitu pertama wirasa, pengendalian dan penghayatan jiwa atau rasa, kedua wirama, keserasian gerak dengan irama musik yang mengiringi, ketiga wiraga, kekuatan dan ketepatan teknik atau gerak fisik. Peserta yang menunjukkan keharmonisan antara ketiga unsur tersebut secara konsisten dan memenuhi aspek teknik meliputi etis, efektif, estetis, dan kesatria, akan mendapatkan skor tertinggi dari para juri.
Harits menegaskan untuk jangan takut melangkah berjuang karena setiap rintangan yang dihadapi justru menjadi kekuatan yang menguatkan jiwa serta membentuk karakter melalui ketabahan dan kesabaran.
“Saya percaya bahwa kesuksesan bukanlah hanya soal keberuntungan semata, melainkan hasil dari usaha, ikhtiar yang konsisten, dan doa yang tulus dari hati. Meski dunia ini penuh dengan ketidakpastian, mereka yang berani maju tanpa keraguan akan selalu menemukan kesempatan dan jalan terbuka untuk berprestasi,” terang Harits.
Lanjut Harits, ia merasa senang, bangga, dan terharu. Ia merasa terpanggil untuk terus belajar dan berlatih lebih giat lagi agar prestasi ini bukan sebagai puncak melainkan pijakan untuk pencapaian yang lebih tinggi di masa depan.
“Jangan merasa iri dengan pencapaian orang lain tetapi belajarlah dari kisah perjuangan orang-orang yang berprestasi,” pesan Harits.
Capaian tersebut diapreasiasi oleh Kepala Biro Kemahasiswaan, Ir. Reo Sambodo, S.P., M.M.A.
“Prestasi ini menjadi kebanggaan sekaligus motivasi bagi mahasiswa UMBY untuk terus berprestasi, baik di bidang akademik ataupun nonakademik,” ujarnya.
Reo menambahkan bahwa setiap mahasiswa yang berprestasi dapat mengajukan klaim dana apresiasi prestasi dengan beberapa prosedur kelengkapan kepada Bagian Kemahasiswaan UMBY.