Masalah darurat sampah di Kota Yogyakarta terus memicu lahirnya berbagai aksi nyata dari kalangan akademisi. Melalui skema pengabdian masyarakat, Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) berkolaborasi dengan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) YKPN meluncurkan program "Sekolah Hijau". Program ini diinisiasi khusus untuk mendongkrak kapasitas manajemen serta mempercepat adopsi teknologi digital di Bank Sampah Kalen Duit, Kampung Sapen, Kota Yogyakarta.
Peluncuran program ditandai dengan digelarnya kelas perdana pada Sabtu (6/6/2026) di sekretariat bank sampah setempat. Kegiatan pengabdian masyarakat ini diketuai oleh pakar Manajemen SDM UMBY, Prof. Dr. Dorothea Wahyu Ariani, dengan beranggotakan Shadrina Hazmi, S.E, M.Sc dari UMBY dan Dra. Tri Harsini Wahyuningsih, M.Si dari STIM YKPN. Dalam pelaksanaannya, pihak STIM YKPN juga akan ambil bagian sebagai narasumber pada kelas-kelas berikutnya sekaligus melakukan pendampingan langsung di lapangan.
Prof. Dr. Dorothea Wahyu Ariani menjelaskan bahwa program Sekolah Hijau ini akan berjalan selama dua bulan ke depan secara hybrid. Metodenya memadukan pelatihan klasikal, kelas online, dan outing class, serta didukung oleh fasilitasi teknologi digital, mentoring, hingga klinik pendampingan intensif.
_1781141165.jpeg)
"Materi pelatihan dan mentoring meliputi manajemen organisasi, digitalisasi keuangan, dan digital marketing yang terdiri dari materi fotografi, videografi, pemasaran media sosial, dan logo branding. Berbagai materi tersebut dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dan anggota, serta pengawasan organisasi agar layanan bank sampah lebih optimal,” jelasnya Prof. Ariani dihadapan Ketua RT, Ketua RW, dan seluruh pengurus Bank Sampah Kalen Duit sebanyak 12 orang.
Langkah digitalisasi ini diambil karena hingga saat ini proses pencatatan transaksi di Bank Sampah Kalen Duit masih dilakukan secara manual. Selain itu, mereka juga belum memiliki media promosi yang memadai untuk memasarkan berbagai produk kreatif hasil olahan sampah yang dibuat oleh anggotanya.
Senada dengan hal tersebut, Fasilitator Lapangan, Awan Santosa, S.E, M.Sc., menilai Sekolah Hijau dapat membantu Bank Sampah Kalen Duit untuk meningkatkan layanan dan melakukan diversifikasi usaha dengan memanfaatkan teknologi digital. Melalui program ini, bank sampah diharapkan mampu mengelola media pemasaran online untuk produk kreatif anggotanya, memfasilitasi layanan jual beli barang bekas milik warga, hingga melakukan pemasaran yang lebih luas melalui media sosial dan marketplace.
“Melalui Sekolah Hijau, kami berharap muncul berbagai solusi kreatif untuk menangani masalah darurat sampah di wilayah Yogyakarta, sekaligus memberikan inspirasi bagi wilayah lain dalam pengelolaan lingkungan,” harap Awan.
Respons positif datang dari Ketua Bank Sampah Kalen Duit RW 07, Eni Sumaryati. Ia menilai program ini menjawab langsung keresahan pengurus yang ingin naik kelas ke arah digital.
“Program seperti ini sangat bermanfaat bagi kami. Saya berharap Sekolah Hijau dapat meningkatkan kemampuan pengurus dalam mengelola organisasi, serta memanfaatkan teknologi digital untuk perbaikan pembukuan keuangan dan pemasaran produk anggota,” tutur Eni.