Tingkatkan Mutu Riset Dosen, UMBY Gelar Coaching Clinic 'Academic Writing with AI'
17 Jul 2026
138
by Farida Dian Farida Dian

Menjawab tantangan era digital dalam dunia akademik, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Bagian Publikasi Ilmiah Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) menyelenggarakan workshop dan coaching clinic bertajuk "Academic Writing with AI: Pemanfaatan Artificial Intelligence secara Etis untuk Meningkatkan Kualitas Publikasi Ilmiah". Kegiatan ini diselenggarakan secara hybrid pada Kamis (16/7/2026), bertempat di Ruang Teater Kampus 1 UMBY, dan diikuti oleh dosen di lingkungan kampus.

Kepala LPPM UMBY, Nanang Khuzaini, S.Pd.Si., M.Pd., MCE., menjelaskan bahwa agenda ini diinisiasi untuk meluruskan persepsi para akademisi mengenai peran kecerdasan buatan dalam penulisan ilmiah. Menurutnya, masih ada keraguan di kalangan dosen terkait aspek moralitas teknologi ini.

"Acara ini digelar untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana kita menggunakan AI dalam penulisan ilmiah secara tepat. Mungkin ada sebagian dosen yang menganggap AI ini kurang etis untuk digunakan, padahal sebenarnya AI adalah tools atau alat bantu yang bisa kita manfaatkan. Semoga kegiatan ini bisa menambah ilmu dan bermanfaat bagi kita, khususnya bagi sivitas akademika UMBY," ujar Nanang dalam sambutannya.

Workshop ini menghadirkan dua pakar yang mumpuni di bidang penulisan dan riset, yakni Prof. Dr. Ir. Muji Setiyo, S.T., M.T., seorang akademisi, peneliti, Editor in Chief, dan kreator konten dari Universitas Muhammadiyah Magelang, serta Dr. Martaria Rizky Rinaldi, M.Psi., Psikolog, yang merupakan akademisi, peneliti, penulis buku, sekaligus psikolog klinis dari UMBY.

Dalam pemaparannya, Dr. Martaria Rizky Rinaldi menekankan bahwa kehadiran kecerdasan buatan memang mempercepat pekerjaan penelitian, namun teknologi ini sama sekali tidak mengambil alih tanggung jawab ilmiah dari seorang peneliti.

Dr. Martaria juga menyoroti perubahan signifikan paradigma riset antara metode tradisional dan metode yang dibantu AI.

“Pada tahap pencarian literatur, jika dahulu peneliti harus mencari artikel satu per satu secara manual, kini AI secara aktif membantu mengembangkan kata kunci dan memetakan literatur sehingga pencarian jauh lebih luas dan terstruktur,” jelasnya.

Selanjutnya, dalam hal pemahaman pustaka, peneliti tidak perlu lagi membaca keseluruhan artikel secara manual hanya untuk menemukan esensi tulisan. AI dapat menyaring informasi awal dan memberikan ringkasan cepat, sehingga peneliti tahu persis artikel yang paling relevan untuk diulas lebih dalam. Bahkan pada tahapan penulisan dan revisi, AI mampu mengevaluasi struktur dan tingkat keterbacaan sejak awal serta memberikan umpan balik langsung (real-time) saat naskah dikembangkan.

“Hal ini sangat menghemat waktu dibandingkan cara lama, di mana revisi kebahasaan biasanya baru dilakukan setelah naskah selesai diketik seluruhnya,” imbuh Dr. Martaria.

Senada dengan hal tersebut, Prof. Muji Setiyo membagikan perspektifnya dari kacamata seorang Editor in Chief. Menurutnya, naskah publikasi yang memiliki daya pikat dan selalu dicari oleh editor adalah naskah yang pembahasannya mampu membantah atau memperbarui temuan-temuan sebelumnya.

“AI hadir bukan untuk mengganti isi pikiran peneliti, melainkan mengefisienkan pekerjaan teknis. Namun, peneliti tidak boleh lupa untuk selalu melakukan human verification atau verifikasi fakta secara manual,” tekannya.

Lebih lanjut, Prof. Muji menjabarkan bahwa sebelum menyusun publikasi, peneliti wajib mampu menjawab lima rumusan penting di dalam naskahnya. Peneliti harus bisa menjelaskan alasan kuat mengapa riset tersebut dilakukan serta memaparkan kegelisahan ilmiah yang mendorong penulisan artikel tersebut. Penulis juga perlu memetakan siapa saja peneliti terdahulu yang memiliki kegelisahan serupa. Dari sana, peneliti dituntut untuk menguraikan metode risetnya dengan menonjolkan kebaruan pendekatan dibandingkan studi-studi terdahulu. Pada akhirnya, seluruh gagasan tersebut harus bermuara pada kemampuan peneliti menyajikan cerita dan sudut pandang baru di dalam bagian pembahasan.

Coaching clinic ini menargetkan empat kompetensi praktis bagi dosen UMBY. Peserta dibekali kemampuan untuk mengenali berbagai jenis AI akademik, memilih alat bantu yang sesuai dengan kebutuhan riset, serta memahami batasan teknologi ini, seperti risiko bias dan informasi fiktif. Terakhir dan paling krusial, dosen dituntut menjaga etika akademik dengan memosisikan AI murni sebagai asisten riset yang digunakan secara transparan dan bertanggung jawab.

Melalui acara ini, LPPM UMBY berharap para dosen dapat mengoptimalkan kecerdasan buatan untuk mendongkrak kuantitas dan kualitas publikasi ilmiah secara bermartabat dan senantiasa menjunjung tinggi kode etik akademik.