Dongkrak Nilai Jual Kelapa, HMPS Akuntansi UMBY Latih Warga Kulon Progo Bikin VCO dan Kerupuk Ampas
17 Jul 2026
146
by Farida Dian Farida Dian

Komoditas kelapa yang melimpah di Kalurahan Depok, Kapanewon Panjatan, Kabupaten Kulon Progo selama ini belum dimanfaatkan optimal. Warga biasanya langsung menjual kelapa dalam bentuk mentah dengan harga murah, berkisar Rp2.000 per butir.

Melihat kondisi tersebut, Himpunan Mahasiswa Program Studi Akuntansi (HMPS Akuntansi) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) mengambil langkah konkret. Melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa), mereka menggelar pelatihan pembuatan Virgin Coconut Oil (VCO) sekaligus pemanfaatan limbahnya menjadi kerupuk ampas kelapa, Sabtu (11/07/2026).

Program yang didanai oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Dikti ini diikuti oleh sedikitnya 34 warga yang didominasi ibu-ibu dari Padukuhan 4 dan 11, Kalurahan Depok. Melalui inovasi ini, masyarakat diharapkan mampu menghasilkan produk turunan kelapa yang bernilai ekonomi tinggi.

Pada sesi praktik, Ketua PPK Ormawa HMPS Akuntansi UMBY sekaligus narasumber, Zenobius Meo Pasu, mendampingi langsung warga dalam pembuatan VCO menggunakan metode alami tanpa pemanasan.

Prosesnya dimulai dengan memarut daging kelapa tua, lalu diperas menjadi santan. Santan tersebut kemudian didiamkan selama satu malam hingga terbentuk pemisahan alami antara air, krim, dan minyak murni. Lapisan minyak murni (VCO) inilah yang kemudian dipanen secara hati-hati agar nutrisinya tetap terjaga.

"Kami berharap masyarakat mampu melihat potensi besar dari komoditas kelapa. Pengolahan kelapa menjadi VCO dan produk turunannya jelas membuka peluang usaha baru serta mendukung peningkatan kesejahteraan warga secara berkelanjutan," ujar Zenobeus.

Tak berhenti pada minyak kelapa, tim mahasiswa juga memperkenalkan konsep zero waste melalui pemanfaatan ampas kelapa sisa pembuatan VCO. Anggota tim mahasiswa, Erika Upik Wangge, memperagakan langsung cara mengolah ampas tersebut menjadi kerupuk yang gurih dan bernilai jual. Ampas kelapa dicampur dengan tepung tapioka, terigu, dan bumbu dapur, lalu dikukus, diiris tipis, dijemur, hingga siap digoreng.

Ketua HMPS Akuntansi UMBY, Muhammad Prilleo, menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat.

"PPK Ormawa menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu di kampus sekaligus belajar bersama masyarakat. Kami berharap inovasi ini bisa terus dikembangkan menjadi usaha rumah tangga," kata Prilleo.

Keberhasilan program ini turut membanggakan pihak kampus. Dosen Pendamping Lapangan (DPL) HMPS Akuntansi UMBY, Ika Wulandari, S.E., M.M., mengungkapkan rasa syukurnya atas konsistensi para mahasiswa dalam meraih hibah nasional.

"Alhamdulillah, tahun 2026 ini merupakan keempat kalinya HMPS Akuntansi UMBY berhasil memperoleh hibah PPK Ormawa dari Belmawa. Capaian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa mampu menghadirkan program inovatif yang relevan dan berdampak nyata bagi kebutuhan masyarakat," tutur Ika.

Langkah mahasiswa ini mendapat sambutan hangat dari perangkat desa dan warga setempat. Kepala Dukuh 11, Harsono, mengapresiasi pelatihan yang dinilai sangat selaras dengan potensi wilayah mereka.

"Masyarakat memperoleh keterampilan baru dari tim PPK Ormawa HMPS Akuntansi UMBY untuk mengolah kelapa menjadi produk yang lebih bernilai. Kami berharap ilmu yang diberikan dapat terus dipraktikkan dan berkembang menjadi usaha masyarakat," tuturnya.

Sementara itu, Rini Rahmawati, salah satu peserta pelatihan, mengaku mendapatkan inspirasi baru.

"Selama ini kami hanya tahu kelapa untuk konsumsi harian. Pelatihan ini membuka wawasan bahwa kelapa bisa jadi VCO, bahkan ampasnya pun bisa jadi kerupuk yang bernilai jual. Kami berharap kegiatan seperti ini terus berlanjut," ungkap Rini.

Sepanjang acara, para peserta tampak antusias. Tidak hanya fokus pada proses produksi, warga juga aktif berdiskusi dengan mahasiswa mengenai strategi pengemasan (packaging), pemasaran produk, hingga peluang pengembangan usaha mandiri berbasis potensi lokal di desa mereka.