Unjuk Gigi di Australia, Tiga Dosen Psikologi UMBY Tampil di Konferensi Internasional ICAEPSS 2026
06 Aug 2026
146
by Farida Dian Farida Dian

Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) semakin mempertegas taringnya di kancah akademik internasional. Tiga dosen terbaiknya sukses tampil mempresentasikan riset berbasis budaya lokal dalam ajang International Conference on Arts, Education, Psychology, and Social Science: Indonesian Perspectives (ICAEPSS) 2026 di University of New South Wales (UNSW) Sydney, Australia, pada 26–27 Juni lalu.

Selain menguji gagasan ilmiah di hadapan peneliti dunia, ajang ini dimanfaatkan UMBY untuk merintis kolaborasi riset global serta melakukan benchmarking persiapan pendirian Program Doktor (S3) Psikologi UMBY.

Ketiga akademisi yang mewakili UMBY tersebut adalah Ranni Merli Safitri, M.Si., Ph.D., Dr. Sheilla Varadhila Peristianto, M.Psi., Psikolog, dan Nanda Yunika Wulandari, M.Psi., Psikolog.

Kehadiran delegasi UMBY di Australia dirancang bukan sekadar untuk memenuhi undangan akademis, melainkan juga bagian dari langkah strategis pengembangan institusi.

Dekan Fakultas Psikologi UMBY, Reny Yuniasanti, M.Psi., Ph.D., Psikolog, mengungkapkan bahwa partisipasi di ICAEPSS 2026 merupakan pintu masuk bagi kerja sama berlanjut antara UMBY dan UNSW.

"Program yang dilakukan di Australia kemarin merupakan salah satu inisiasi kerja sama antara Fakultas Psikologi UMBY dan UNSW. Harapannya bisa memunculkan kolaborasi program baru, seperti penelitian bersama (joint research) dan joint community service," papar Reny.

Reny menambahkan, di sela-sela agenda konferensi, tim UMBY juga menyempatkan diri melawat ke University of Adelaide untuk menjajaki pengembangan program doktor.

"Alhamdulillah tim diterima dengan baik untuk kolaborasi terkait benchmarking pendirian S3 Psikologi. Diharapkan tahun depan kami akan berkunjung dan berkonsultasi lebih fokus dan mendalam terkait program dan kurikulum untuk S3 tersebut," lanjutnya.

Di tengah puluhan pemakalah dari berbagai negara, ketiga dosen UMBY membawa benang merah yang sama dalam riset, antara lain memahami perilaku dan dinamika psikologis manusia Indonesia melalui kerangka budayanya sendiri, bukan sekadar meminjam teori Barat. Ranni Merli Safitri, Ph.D. tentang Model Pengambilan Keputusan Karier Remaja. Ia memaparkan riset berjudul "An Integrative Model of Adolescents' Career Decision-Making Processes: Trait, Social-Cognitive, and Readiness Perspectives". Penelitian ini mengintegrasikan faktor kepribadian (trait), proses sosial-kognitif, serta tingkat kesiapan individu untuk memberikan model komprehensif bagi bimbingan karier remaja di Indonesia.

Kemudian Dr. Sheilla Varadhila Peristianto tentangTeori Emosi Sosial Berbasis Budaya Jawa. Menggali kearifan lokal, Sheilla menyajikan riset "Developing a Javanese Theory of Relational Social Emotion and Problem-Solving". Ia mengangkat konsep rasa dalam budaya Jaw, termasuk tepa selira (kepekaan), rasa rumangsa (kesadaran diri/empati), mawas diri, dan harmoni sosial sebagai instrumen pemecahan masalah.

Pendekatan ini memikat perhatian peserta internasional. Salah satu peserta menilai riset Sheilla memberikan angin segar bagi dunia psikologi yang selama ini didominasi kerangka berpikir Barat.

"Kita sering menggunakan teori-teori psikologi global untuk menjelaskan perilaku lokal. Penelitian ini mengambil pendekatan sebaliknya dengan menggunakan konsep lokal untuk memahami masyarakat setempat, sehingga temuan-temuannya menjadi lebih berakar pada budaya dan lebih bermakna," ujar salah satu peserta konferensi.

Selanjutnya, Nanda Yunika Wulandari tentang Empati dan Perilaku Menolong pada Masyarakat Kolektivis. Nanda mematahkan asumsi konvensional melalui riset "Beyond Empathy: Understanding Prosocial Behavior among University Students in a Cultural Context". Dari survei terhadap 251 mahasiswa, Nanda menemukan bahwa meski 84% responden memiliki tingkat empati di level sedang (moderat), sebanyak 58% di antaranya justru mencatatkan tingkat perilaku menolong yang sangat tinggi.

Temuan ini membuktikan bahwa pada masyarakat kolektivis seperti Indonesia, tindakan menolong tidak melulu didorong oleh empati internal, melainkan oleh norma dan kebiasaan sosial yang dirawat bersama untuk menjaga keharmonisan.

Konferensi yang digagas oleh Indonesian Community of School of Education UNSW ini diisi oleh deretan pembicara kunci seperti Prof. Tony Loughland (Head of School of Education UNSW), Prof. Claire Annesley (Dekan Faculty of Arts, Design & Architecture UNSW), Assoc. Prof. Nicholas Apoifis, hingga Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI Prof. Yuli Rahmawati.

Keikutsertaan Ranni Merli Safitri terbilang istimewa karena ia mengemban status ganda: sebagai alumnus UNSW sekaligus anggota komite penyelenggara. Di hari pertama, Ranni tampil dalam sesi UNSW Indonesian Alumni Spotlight bersama Dr. Wendi Wijarwadi untuk membagikan pengalaman karier alumni Indonesia, selain juga bertindak sebagai moderator di beberapa sesi paralel.

Selama dua hari, konferensi membahas beragam isu strategis, mulai dari demokrasi digital, infrastruktur dan lingkungan, kajian bahasa, pembelajaran digital, hingga kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis (psychological well-being). Seluruh rangkaian acara resmi ditutup oleh Prof. Andy Gao dari School of Education UNSW.

Pencapaian ini membuktikan komitmen Fakultas Psikologi UMBY untuk terus mendorong akademisinya berkiprah di tingkat global, sekaligus memperkokoh pengembangan psikologi berbasis kearifan lokal (indigenous psychology).