Ubi jalar ungu, salah satu komoditas pangan lokal yang memiliki kandungan gizi tinggi, terutama antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan alami. Selain kaya manfaat kesehatan, ubi jalar ungu juga mudah dibudidayakan dan tersedia melimpah di daerah Kenteng, Wiladeg, Karangmojo, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Namun demikian, pemanfaatannya masih relatif terbatas dan sebagian besar dijual dalam bentuk segar dengan nilai yang rendah. Kondisi tersebut menyebabkan potensi ekonomi ubi jalar ungu belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.
Melihat kondisi tersebut, beberapa dosen yang berasal dari dua perguruan tinggi lintas negara berkolaborasi. Mereka adalah dosen Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) yang diketuai Agus Setiyoko, S.TP., M.Sc., (Teknologi Hasil Pertanian) dengan anggota dosen Prodi Akuntansi, Ika Wulandari, S.E., M.M., CAP., CTT., dan Endang Sri Utami, SE., M.Si, Ak., CA., CAP., serta tim dosen dari prodi Ilmu dan Teknologi Pangan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Cawangan Negeri Sembilan, Malaysia terdiri dari Nurul Azlin Binti Tokiman, M.Sc., Ts. Nadya Binti Hajar, M.Sc., dan Naemaa Binti Mohamad, M.Sc.
Bertempat di balai Padukuhan Kenteng Wiladeg, Gunung Kidul, kelompok PKK Kenteng mendapat penyuluhan sekaligus pelatihan diversifikasi produk berbasis ubi jalar ungu, pada Minggu, 14 Juni 2026. Materi yang disampaikan diantaranya diversifikasi aneka olahan ubi jalar ungu, kandungan gizi ubi jalar ungu, profil sensori produk ubi jalar ungu, label dan kemasan produk, pembukuan keuangan sederhana, dan manajemen keuangan sederhana. Kemudian dilanjutkan dengan praktik pengolahan produk egg roll, stik, mochi, dan yangko ubi jalar ungu.
Ketua Tim Pengabdian UMBY, Agus Setiyoko, S.TP., M.Sc. mengungkapkan, ubi jalar ungu amat melimpah di daerah Kenteng. Namun, selama ini potensinya belum dimanfaatkan optimal karena warga umumnya hanya menjual dalam bentuk segar dengan harga rendah.
"Melalui hibah Program Pengabdian kepada Masyarakat skema Kerja Sama Luar Negeri (PKM-LN) dari LPPM UMBY pendanaan 2026, kami berharap inovasi produk berbasis ubi ungu ini dapat meningkatkan nilai tambah komoditas lokal sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat," ujar Agus.
Sementara itu, untuk memastikan keberlanjutan bisnis, dua dosen Akuntansi UMBY, Ika Wulandari, S.E., M.M., dan Endang Sri Utami, S.E., M.Si., Ak., memberikan pelatihan pembukuan keuangan sederhana. Warga diajarkan cara mencatat pemasukan, pengeluaran, hingga menghitung biaya produksi.
Pelatihan yang mengusung tema “Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan melalui Inovasi dan Peningkatan Nilai Tambah Ubi Jalar Ungu” ini digelar secara bauran (hybrid). Sebanyak 35 anggota PKK Kenteng hadir langsung di lokasi, sementara 63 mahasiswa UiTM Cawangan Negeri Sembilan, Malaysia turut berpartisipasi secara daring.

Dalam kegiatan tersebut, tim pengabdian juga menyerahkan berbagai bantuan peralatan pendukung pengolahan pangan guna menunjang keberlanjutan usaha kelompok. Seperti kompor gas dan regulator, alat penggiling mie, pembuatan eggroll, dan pengukus.
“Bantuan ini adalah bentuk motivasi agar semangat warga dalam meningkatkan diversifikasi pangan terus menyala, yang pada akhirnya akan berdampak positif pada perekonomian mereka,” tambah Ika Wulandari.
Tidak hanya diajarkan cara mengolah, warga juga dibekali pemahaman dari hulu ke hilir. Nurul Azlin Binti Tokiman memberikan penyuluhan mengenai kemasan dan label sebagai media informasi sekaligus sarana promosi produk. Informasi yang dicantumkan pada label meliputi nama produk, komposisi, berat bersih, tanggal kedaluwarsa, serta identitas produsen.
Senada dengan hal tersebut, Naemaa Binti Mohamad menjelaskan kandungan gizi dan manfaat kesehatan ubi jalar ungu. Menurutnya, ubi jalar ungu mengandung serat, vitamin, mineral, serta antosianin yang berperan sebagai antioksidan alami sehingga berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan fungsional yang bernilai tambah.
Sementara itu, Ts. Nadya Binti Hajar memberikan materi mengenai profil sensori produk olahan ubi jalar ungu. Dalam penyampaiannya, Nadya menjelaskan pentingnya karakteristik warna, aroma, rasa, dan tekstur dalam menentukan tingkat penerimaan konsumen serta daya saing produk di pasar.
Inovasi ini disambut antusias oleh warga setempat. Ketua kelompok PKK, Suismiyati mengaku pelatihan yang diikutinya memberikan manfaat yang besar bagi anggota kelompok karena memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam mengolah ubi jalar ungu menjadi berbagai produk bernilai tambah.
“Selama ini ubi ungu belum banyak diolah menjadi produk bernilai jual tinggi. Melalui pelatihan ini, kami mendapat wawasan baru dari produksi, kemasan, hingga keuangan. Harapannya produk kami nantinya bisa diterima pasar dan menjadi tambahan pendapatan bagi anggota,” ujar Suismiyati.
