Merespons transformasi digital dan dinamika kebutuhan dunia kerja, Program Studi (Prodi) Bimbingan dan Konseling (BK) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) menggelar Peninjauan Kurikulum di Crystal Lotus Hotel, Yogyakarta, pada Selasa (14/07/2026). Langkah ini diambil untuk memastikan lulusan Prodi BK UMBY memiliki kompetensi yang selaras dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan masyarakat yang terus berubah.
Dekan FKIP UMBY, Dr. Nuryadi, S.Pd.Si., M.Pd., menegaskan bahwa pengembangan kurikulum harus responsif.
"Kurikulum harus mampu beradaptasi terhadap perubahan kebijakan pendidikan dan tuntutan dunia kerja, sehingga mutu lulusan kita dapat terus ditingkatkan," ujarnya saat membuka acara.
Peninjauan ini melibatkan berbagai pihak secara komprehensif, mulai dari jajaran pimpinan FKIP, Tim Kurikulum UMBY, Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) SMK Bantul, alumni, hingga perwakilan mahasiswa.
Ketua Prodi BK UMBY, Eka Aryani, S.Pd., M.Pd., memaparkan bahwa salah satu fokus utama perombakan kurikulum kali ini adalah penguatan kompetensi pada aspek digitalisasi dan praktik konseling yang lebih aplikatif. Untuk menjawab tantangan tersebut, Prodi BK UMBY resmi menambahkan empat mata kuliah baru antara lain Pendidikan Inklusi, Konseling Krisis, Konseling Siber serta Bimbingan dan Konseling Adiksi.
“Penambahan mata kuliah baru dapat membekali mahasiswa dengan kompetensi yang lebih komprehensif dalam memberikan layanan kepada peserta didik berkebutuhan khusus, menangani situasi krisis, memanfaatkan teknologi digital dalam praktik konseling, serta memberikan layanan bagi individu yang menghadapi permasalahan adiksi,” urai Eka.
Lanjut Eka, lulusan prodi BK tidak hanya disiapkan berkarier sebagai guru BK di sekolah, tetapi juga dicetak untuk memiliki kompetensi sebagai pengembang media layanan BK berbasis teknologi, laboran BK, konsultan pengembangan diri, hingga wirausahawan di bidang layanan konseling.

Pakar dari Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN), Dr. Sigit Sanyata, M.Pd., yang hadir sebagai narasumber menekankan pentingnya penegasan profil lulusan. Menurutnya, setiap mata kuliah harus memberikan kontribusi nyata dalam mendukung Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), alih-alih sekadar menjejali mahasiswa dengan semua bidang ilmu tanpa arah yang jelas.
Langkah adaptif UMBY ini mendapat apresiasi dari para pemangku kepentingan. Koordinator BK SMAN 1 Sedayu, Marwanto, menyambut baik integrasi teknologi dalam layanan konseling. Namun, ia mengingatkan agar esensi konseling tidak hilang.
"Teknologi adalah sarana pendukung. Penguatan teknologi tersebut tetap harus memperhatikan hakikat layanan BK yang berorientasi pada hubungan interpersonal individu, tanpa mengurangi esensi interaksi langsung antara konselor dan peserta didik," tegas Marwanto.
Sementara itu, perwakilan alumni, Karina, menyoroti pentingnya mata kuliah Pendidikan Inklusi. Berdasarkan pengalamannya di lapangan, calon guru BK sangat membutuhkan pembekalan khusus untuk menangani peserta didik berkebutuhan khusus dan berkolaborasi dengan guru kelas di sekolah inklusif.
Antusiasme juga datang dari kalangan mahasiswa. Fajar Sujud Raharjo, perwakilan mahasiswa Prodi BK UMBY, berharap kurikulum baru ini membawa angin segar bagi metode pembelajaran.
"Kami berharap kurikulum baru ini tidak hanya memperkuat pemahaman teori, tetapi juga memberikan pengalaman belajar aplikatif yang relevan dengan tantangan profesi konselor di lapangan," ungkap Fajar.
Eka menerangkan rencananya kurikulum hasil peninjauan yang lebih relevan dan adaptif ini akan mulai diimplementasikan pada Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027 mendatang.
“Melalui kurikulum yang diupdate ini, kami ingin lulusan BK UMBY memiliki kompetensi yang unggul, profesional, adaptif terhadap transformasi digital, mampu memberikan layanan bimbingan dan konseling yang inklusif, serta siap berkiprah sebagai konselor profesional di berbagai bidang,” pungkas Eka.