Program Studi Agroteknologi Fakultas Agroindustri Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) menggelar pelatihan pembuatan media kultur jaringan tanaman berbahan alami di SMK Negeri 1 Nanggulan, Rabu (03/06/2026). Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan meningkatkan pemahaman siswa mengenai bioteknologi pertanian yang efisien dan aplikatif. Pelatihan ini diikuti dengan antusias oleh 33 siswa, guru mata pelajaran, serta tiga operator layanan operasional. Adapun Tim PkM UMBY diketuai oleh Ir. Tyastuti Purwani, M.P., dengan anggota Farra Ummush Sholiha, S.Tr.P., M.P., dan Dra. Umul Aiman, M.Si.
Ketua Tim PkM, Tyastuti Purwani, menjelaskan bahwa pengenalan media alami merupakan langkah strategis untuk mendekatkan teknologi pertanian modern kepada para siswa melalui bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar.
"Ini menjadi langkah awal untuk menumbuhkan minat dan kreativitas siswa dalam bidang bioteknologi pertanian. Apalagi, wilayah Kulon Progo memiliki potensi hortikultura unggulan seperti pisang yang penyediaan bibit berkualitasnya dapat didukung melalui teknologi kultur jaringan," terang Tyastuti.
Inisiatif akademik ini mendapat sambutan positif dari Kepala SMKN 1 Nanggulan, Fauzi Rokhman, S.Pd., M.Pd. Ia menilai pelatihan ini memberikan wawasan segar bagi para peserta didiknya.
"Ini pengalaman baru bagi siswa untuk mengenal teknologi pertanian modern. Mereka dapat mengembangkan kreativitas dan inovasi berbasis potensi pertanian yang ada di lingkungan sekitar," katanya.
Dalam sesi materi, Umul Aiman, memaparkan konsep dasar dan pemanfaatan bahan alam seperti kentang, air kelapa, pisang, dan wortel sebagai alternatif media tumbuh.
"Media kultur alami sangat menarik karena lebih ekonomis. Meski kandungan nutrisinya tidak sekonsisten media sintetis, bahan-bahan lokal ini sangat memadai untuk praktik tanpa memerlukan biaya dan fasilitas yang besar," ungkap Umul.
Usai mendapatkan teori dilanjutkan dengan praktik langsung yang dipandu oleh Farra Ummush Sholiha. Para peserta diajak mengolah kentang menjadi ekstrak bernutrisi. Ekstrak tersebut kemudian diracik bersama air kelapa (zat pengatur tumbuh alami), gula (sumber energi), agar (pemadat), dan arang aktif guna menekan senyawa penghambat pertumbuhan. Campuran ini dipanaskan hingga homogen sebelum dituang ke dalam wadah kultur.

Keterlibatan aktif terlihat dari para siswa, salah satunya Annisa Gianila. Ia mengaku baru mengetahui jika bahan-bahan yang biasa ia jumpai di dapur ternyata bisa disulap menjadi media tanam.
"Pengalaman praktik langsung ini membuat saya makin tertarik untuk mempelajari bioteknologi dan pertanian modern," ujarnya.
Sebagai tindak lanjut yang berkelanjutan, media kultur alami hasil praktik tersebut tidak langsung dibuang. Wadah-wadah berisi media tanam itu disimpan di laboratorium sekolah untuk diobservasi. Siswa ditugaskan melakukan pengamatan dan evaluasi terhadap perkembangan kultur selama beberapa minggu ke depan guna menyempurnakan proses pembelajaran.