KRjogja.com - YOGYA - waktu mengalami tekanan bahkan mendekati Rp 17 ribu. Kondisi itu, tentunya akan berimplikasi pada kehidupan ekonomi khususnya para pelaku usaha (UMKM) yang berbahan baku dari LN atau yang menggunakan jasa (dinilai dengan dollar). Ketika biaya import naik, pelaku usaha terpaksa menaikkan harga jual agar operasi usaha tetap jalan.
"Ini artinya akan menurunkan daya beli konsumen dan mengurangi volume penjualan. UMKM, terutama di sektor makanan, kerajinan, dan jasa lokal bekerja dengan margin tipis. Sehingga tekanan biaya ini dapat menggerus keuntungan atau bahkan membawa risiko penutupan usaha jika tekanan kurs berlangsung lama,"kata Pengamat ekonomi sekaligus dosen Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi UMBY, Widarta, MM CDMP di Yogyakarta, Rabu (21/1).
Pengamat ekonomi dari UMBY itu mengungkapkan, menyikapi kondisi itu perlu solusi dari pemerintah. Untuk solusi jangka pendek bisa dilakukan dengan langkah-langkah strategis baik dari sisi fiskal maupun moneter. Karena secara moneter Bank Indonesia terus mengintervensi pasar (valuta asing) untuk menekan volatilitas kurs dan menjaga dollar. Sedangkan secara fiskal menenangkan pasar dan meningkatkan kepercayaan pasar.
"UMKM dan sektor industri perlu memperluas akses pembiayaan murah bahkan kalau perlu memberikan stimulus misalnya subsidi bahan baku. Sementara bagi masyarakat umum perlu memberikan subsidi atau bantuan perlindungan sosial bagi masyarakat khususnya yg berpendapatan menengah bawah," paparnya.
Widarta mengatakan, bagi masyarakat umum, pelemahan rupiah berarti daya beli menurun. Ketika harga barang impor dan substitusinya naik, terutama energi, bahan makanan dan kebutuhan pokok, rumah tangga berpendapatan rendah dan menengah merasakan tekanan inflasi yang lebih berat. Hal ini disebabkan pendapatan mereka tidak meningkat seiring kenaikan harga. Penurunan daya beli ini dapat mempersempit konsumsi rumah tangga dan menurunkan kesejahteraan secara umum.Selain menekan sektor industri, dampak lanjutan pelemahan rupiah terhadap inflasi, khususnya inflasi pangan.
"Dampak kenaikan nilai tukar tidak hanya terasa pada komoditas kedelai, tetapi juga pada berbagai bahan pangan impor lainnya yang masih dibutuhkan Indonesia. Artinya pelemahan rupiah terhadap dollar ini, berpotensi menjadi inflasi," jelasnya.
Sumber: https://www.krjogja.com/keuangan/1247095833/rupiah-melemah-pemerintah-perlu-lakukan-langkah-strategis-fiskal-dan-moneter ; Rabu, 21 Januari 2026