Cegah Ketergantungan AI, UMBY Hadirkan Pakar Swiss Bahas Integritas Akademik
13 May 2026
118
by Fitriana Fitriana

Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) menggelar International Guest Lecturer bertajuk “Assessment in The Age of Digital Technology” pada Senin, 11 Mei 2026. Acara ini menghadirkan Dr. Selin Sophia Oeksuez, M.A., peneliti dari Unviersity of Bern sekaligus dosen di University og Zurich, Swiss, sebagai narasumber utama.

Dalam paparannya, Selin menilai bahwa teknologi memberikan keuntungan besar dalam hal fleksibilitas. Namun, ia mengkhawatirkan munculnya potensi terkikisnya kemampuan berpikir kritis dan pemikiran yang lebih mendalam akibat ketergantungan pada penggunaan Artificial Intelligence (AI) dan big data.

“Di sisi lain, AI memang meringankan beban sehingga pengerjaan tugas menjadi lebih cepat. Tetapi, cara berpikir kritis kita bisa mulai berkurang, bahkan hilang,” tegas Selin.

Ia menekankan agar setiap institusi pendidikan memiliki aturan terkait penggunaan AI. Hal ini penting untuk memastikan setiap tugas bahkan karya ilmiah yang dihasilkan tetap memiliki orisinalitas dan tidak didominasi oleh pemakaian teknologi.

“Manfaatkan teknologi hanya untuk mempermudah, bukan untuk membuat cara berpikir orang-orang intelektual menjadi tumpul,” pesan Selin.

Lebih dalam, Selin menjelaskan bahwa teknologi digital memiliki risiko sekaligus tantangan dalam pembelajaran. Antara lain, kesenjangan keterampilan mahasiswa dalam mengoperasikan teknologi, risiko pudarnya kesadaran kritis akibat bias teknologi. Menurutnya, pembelajaran kognitif akan efektif jika teknologi digunakan secara interaktif dan adaptif dengan kombinasi strategi umpan balik dari dosen, hal tersebut memungkinkan adanya koreksi, keaktifan, dan kolaborasi dengan berbagai pihak.

Selin pun menguraikan setidaknya terdapat peran dosen di perguruan tinggi dalam mengintegrasikan AI dalam dunia pendidikan, seperti penyesuaian kurikulum (misalnya menyesuaikan strategi ujian dan penilaian, merancang tugas berorientasi proyek), pengembangan kebijakan (misalnya meninjau kembali tujuan pembelajaran dan menyusun pedoman penggunaan teknologi), mengajarkan literasi dan etika AI (misalnya mengedukasi mahasiswa mengenai batasan AI dan integritas akademik) guna mendorong proses pembejalaran yang reflektif.

Selin menutup sesi dengan ajakan agar akademisi tetap bertanggung jawab dan beretika dalam memanfaatkan kecerdasan buatan demi menjaga marwah pendidikan.