OPINI - Dr. Martaria Rizky Rinaldi, M.Psi., Psikolog : Anak Jadi Korban, Mengapa Orang Tua yang Disalahkan?
11 May 2026
123
by Farida Dian Farida Dian

Kasus dugaan kekerasan dan penelantaran anak di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, mengguncang banyak orang tua. Tempat yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak justru diduga berubah menjadi ruang yang melukai. Dalam pemberitaan yang beredar, kepolisian telah menetapkan pemilik daycare sebagai tersangka. Penyidikan masih berlanjut, sementara puluhan orang tua korban telah dimintai keterangan. Sebagian orang tua melaporkan kondisi anak yang memprihatinkan, mulai dari berat badan menurun, luka-luka, hingga tumbuh kembang yang tidak sesuai usia.

Namun, di tengah rasa marah dan keprihatinan publik, muncul respons lain yang tidak kalah menyakitkan: sebagian warganet justru menyalahkan orang tua.

“Kenapa anak dititipkan ke daycare?”

“Kalau sayang anak, harusnya dijaga sendiri.”

“Orang tua terlalu sibuk bekerja.”

“Harusnya dari awal tahu ada yang tidak beres.”

Sekilas, komentar seperti ini mungkin terdengar seperti nasihat. Tetapi, bila dilihat lebih dalam, komentar tersebut dapat berubah menjadi bentuk victim blaming: kecenderungan menyalahkan korban atau pihak yang terdampak, alih-alih menempatkan tanggung jawab utama pada pihak yang diduga melakukan kekerasan, membiarkan penelantaran, atau gagal menjalankan sistem pengasuhan yang aman.

Dalam kasus ini, anak-anak adalah korban langsung. Orang tua adalah korban sekunder. Mereka bukan pelaku kekerasan. Mereka adalah pihak yang mempercayakan anak kepada lembaga yang seharusnya memiliki standar keamanan, pengasuhan, dan tanggung jawab profesional.

Menyalahkan orang tua karena menitipkan anak ke daycare adalah cara berpikir yang terlalu sederhana untuk persoalan yang jauh lebih kompleks.

Banyak orang tua menitipkan anak bukan karena tidak mencintai anaknya. Mereka mungkin harus bekerja. Mereka mungkin tidak memiliki dukungan keluarga yang memadai. Mereka mungkin menjadi orang tua tunggal. Mereka mungkin berada dalam tekanan ekonomi. Mereka mungkin membutuhkan bantuan pengasuhan agar tetap dapat menjalankan kehidupan sehari-hari.

Dalam masyarakat modern, daycare bukan simbol kegagalan orang tua. Daycare adalah bagian dari sistem dukungan sosial. Karena itu, ketika terjadi kekerasan atau penelantaran di dalamnya, pertanyaan utama seharusnya bukan, “Mengapa orang tua menitipkan anak?”, melainkan, “Mengapa lembaga pengasuhan gagal melindungi anak?”

Di sinilah psikologi sosial dapat membantu kita memahami mengapa sebagian orang begitu cepat menyalahkan orang tua. Salah satu penjelasannya adalah just-world belief, yaitu keyakinan bahwa dunia pada dasarnya adil, sehingga hal buruk dianggap terjadi karena ada kesalahan dari orang yang mengalaminya. Dengan cara berpikir ini, seseorang merasa lebih aman secara psikologis: “Kalau saya lebih hati-hati, hal seperti itu tidak akan terjadi pada saya.”

Keyakinan ini memberi rasa kontrol semu. Orang merasa tragedi dapat dihindari sepenuhnya jika korban “lebih waspada”, “lebih teliti”, atau “lebih benar” dalam mengambil keputusan. Padahal, tidak semua risiko mudah terlihat sejak awal. Tidak semua lembaga yang tampak profesional benar-benar aman. Tidak semua tanda kekerasan pada anak mudah dikenali, apalagi pada anak usia dini yang belum mampu bercerita dengan jelas.

Komentar yang menyalahkan orang tua juga dapat memperberat kondisi psikologis keluarga korban. Orang tua yang anaknya menjadi korban kemungkinan sedang bergulat dengan rasa bersalah yang sangat besar. Mereka mungkin bertanya pada diri sendiri, “Mengapa saya tidak tahu lebih awal?”, “Apakah saya gagal melindungi anak saya?”, atau “Apa dampaknya bagi masa depan anak saya?”

Ketika publik menambahkan tuduhan, rasa bersalah itu dapat berubah menjadi rasa malu sosial. Orang tua bisa merasa dihakimi, takut bercerita, enggan melapor, atau ragu mencari bantuan. Padahal, dalam kasus kekerasan terhadap anak, dukungan sosial sangat penting. Anak membutuhkan lingkungan yang aman, stabil, dan penuh kasih. Orang tua juga membutuhkan kekuatan emosional untuk mendampingi pemulihan anak.

Jika orang tua terus diserang, kapasitas mereka untuk menjadi figur pemulihan bagi anak dapat terganggu. Karena itu, membela korban bukan hanya urusan moral. Ini juga bagian dari menciptakan kondisi psikologis yang memungkinkan pemulihan terjadi.

Tentu, masyarakat boleh belajar dari kasus ini. Orang tua tetap perlu lebih cermat memilih daycare: mengecek izin, rasio pengasuh dan anak, rekam jejak lembaga, keterbukaan komunikasi, standar keamanan, serta mekanisme pelaporan. Tetapi edukasi tidak sama dengan menyalahkan. Edukasi membantu mencegah kejadian berulang. Victim blaming justru memindahkan tanggung jawab dari pelaku kepada korban.

Kasus Little Aresha juga tidak bisa dibaca hanya sebagai tragedi keluarga. Ia adalah persoalan kelembagaan, pengawasan, regulasi, dan akuntabilitas. Dalam naskah awal, sudah tepat ditegaskan bahwa persoalan ini lebih besar daripada keputusan individual orang tua untuk menitipkan anak; ia menyangkut kegagalan sistem perlindungan anak.

Maka, fokus publik perlu dikembalikan ke arah yang benar. Bila benar terjadi kekerasan dan penelantaran, maka pihak yang harus bertanggung jawab adalah mereka yang melakukan, membiarkan, mengelola, atau mengambil keuntungan dari sistem pengasuhan yang merugikan anak. Bukan orang tua yang mempercayakan anaknya pada tempat yang mereka kira aman.

Kasus ini seharusnya menjadi momentum untuk membangun budaya perlindungan anak yang lebih serius. Daycare harus dipandang sebagai layanan yang membutuhkan standar ketat, tenaga pengasuh yang kompeten, pengawasan rutin, dan mekanisme pengaduan yang mudah diakses. Pemerintah perlu memperkuat regulasi dan inspeksi. Lembaga pengasuhan perlu transparan. Masyarakat perlu lebih peka. Dan publik digital perlu belajar menahan diri.

Di era media sosial, komentar sering kali muncul lebih cepat daripada empati. Kita merasa sudah memahami seluruh situasi hanya dari potongan berita, lalu terburu-buru menjadi hakim. Padahal, di balik kasus ini ada anak-anak yang sedang terluka dan orang tua yang mungkin sedang menjalani hari-hari paling berat dalam hidup mereka.

Sebelum menyalahkan orang tua korban, kita perlu bertanya: apakah komentar kita membantu pemulihan anak, atau justru menambah luka pada keluarga yang sedang berusaha bertahan?

 

 

Dr. Martaria Rizky Rinaldi, M.Psi., Psikolog (@martariarizky), adalah dosen dan psikolog klinis di Universitas Mercu Buana Yogyakarta, dengan fokus kajian psikologi klinis, kesehatan mental, dan perilaku digital.