Kesiapan lulusan perguruan tinggi dalam menghadapi dunia kerja kini tidak lagi hanya berdasar pada nilai akademis atau teori semata. Di tengah pesatnya transformasi teknologi, pengembangan karakter, dan pembaruan kurikulum yang adaptif menjadi kunci utama agar mahasiswa mampu bertahan serta mampu melalui pasca-kelulusan.
Hal tersebut menjadi diskusi mengenai relevansi kurikulum pendidikan dan industri yang dikemas dalam Internasional Guest Lecturer ‘Best Prectice Sharing: Rethinking Curriculum Design in Higher Education’, pada Senin (11/05/2026). Acara yang diselenggarakan di Ruang Teater tersebut diikuti oleh para dosen dari berbagai program studi di lingkungan Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY).
Peneliti University of Bern sekaligus dosen University of Zurich, Swiss, Dr. Selin Sophia Oeksuez, M.A., menekankan bahwa membangun jaringan (networking), kepercayaan, dan cara kerja profesional jauh lebih krusial dibandingkan nilai formatif di atas kertas.
Selin menilai perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam memengaruhi arah industri. Menurutnya, pendidikan dan industri adalah dua hal yang saling berkaitan dan harus berjalan beriringan dengan transformasi digital. Namun, ia mengingatkan agar penggunaan teknologi tetap didasari oleh kebijaksanaan dan penuh tanggung jawab.
"Industri ataupun pendidikan harus berdampingan dengan dunia transformasi digital. Perlu adaptasi praktis, tetapi harus didasari kebijaksanaan dan penuh tanggung jawab. Tidak semua harus berujung pada teknologi, karena etika dan kualitas karakter pribadi manusia adalah yang utama," ujar Selin.
Ia mencontohkan sistem pendidikan di Swiss yang menekankan pada kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, pemecahan masalah (problem solving), dan literasi digital. Selin mendorong agar porsi praktik diperbanyak agar mahasiswa memiliki kompetensi nyata.
"Jangan banyak teori. Mahasiswa harus survive di kehidupan setelah lulus, sehingga banyak praktik akan membantu mereka memiliki kompetensi yang sesungguhnya," tegasnya.
_1778574365.jpeg)
Senada dengan hal tersebut, Elysa Hartati, M.Pd., Kepala Biro Pembelajaran UMBY menyoroti pentingnya pembaruan kurikulum secara berkala. Menurutnya, perguruan tinggi harus selalu memperbarui kurikulum agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman yang terus berubah, mulai dari fenomena Society 5.0, kecerdasan buatan (AI), hingga kompetisi global.
"Perguruan tinggi tidak bisa memprediksi masa depan secara pasti, jadi kami perlu menyiapkan kurikulum yang paling update agar bisa mengikuti perubahan dunia," kata Elysa.
Ia menambahkan bahwa peran kampus adalah menjembatani celah antara kebutuhan industri dan perkembangan pendidikan. Target akhirnya bukan sekadar mencetak lulusan dengan lembar ijazah dan transkrip nilai, melainkan individu yang memiliki fondasi karakter kuat untuk bersaing di kancah internasional.
"Fondasi dasar pembelajaran harus diimbangi dengan kompetensi dan karakter pribadi yang berkualitas," tutup Elysa.