UMBY Memaknai Hari Kartini: Pesan untuk Perempuan Indonesia
21 Apr 2026
80
by Fitriana Fitriana

Di balik peringatan Hari Kartini setiap 21 April, selalu tersisa kisah inspiratif dan harapan besar bagi perempuan Indonesia. Berkat perjuangan R.A. Kartini dan para pahlawan perempuan lainnya, ruang kesempatan bagi kaum hawa untuk meraih pendidikan dan mengejar impian kini terbuka sangat lebar.

Saat ini, emansipasi bukan lagi sekadar kata, melainkan realitas yang melekat di benak perempuan. Mereka berhasil mematahkan stigma bahwa tanggung jawab kaum hawa hanya terbatas pada urusan rumah tangga. Sejatinya, perempuan memiliki nilai berharga dan mampu memberikan manfaat dalam setiap peran yang dipikulnya. Meski begitu, ketika berbincang tentang sosok "Kartini Masa Kini", setiap perempuan memiliki pandangan yang berbeda.

Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Elysa Hartati, S.Pd., M.Pd., menilai bahwa Kartini masa kini adalah perempuan yang berani menegosiasikan ruang, bukan sekadar menerima peran, tetapi menyetarakan diri dalam setiap kesempatan. Menurutnya, Kartini modern tidak hanya berdiri untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi pilar penguat bagi perempuan lain di tengah keberagaman yang dinamis.

"Dulu (para pahlawan) sudah bersusah payah agar perempuan bermartabat setara dengan laki-laki, maka sekarang ini kita seharusnya tidak saling menjatuhkan. Mari bergandengan tangan dan selalu menguatkan untuk bisa memberikan manfaat di tengah keberagaman dan peran yang diemban," tegas Elysa.

Di samping itu, Elysa juga mengingatkan para perempuan untuk menjadi pembelajar sejati. Hal ini dapat dilakukan dengan terus mengasah kapasitas diri, memperluas wawasan, menajamkan literasi, dan menjadikan pengetahuan sebagai sumber daya untuk bertumbuh serta memberdayakan lingkungan sekitar.

Senada dengan hal tersebut, Tenaga Kependidikan Fakultas Psikologi UMBY, Rizky Febrina R., S.Pd., mendefinisikan Kartini masa kini sebagai sosok yang berani menjadi diri sendiri, tidak takut bermimpi, dan gigih mewujudkan impiannya.

"Dari zaman R.A. Kartini hingga kini, perempuan senantiasa memiliki semangat yang sama untuk mengambil peran dalam mewujudkan impiannya. Hanya saja, cara yang ditempuh saat ini mungkin berbeda," jelas Rizky. Ia pun berharap perempuan Indonesia untuk tidak mudah berkecil hati saat menghadapi rintangan, melainkan harus saling menguatkan, berani melangkah, dan terus berkembang.

Semangat kesetaraan dan pemberdayaan ini sejatinya sejalan dengan perspektif agama, khususnya Islam, yang memuliakan dan menjaga martabat perempuan. Stigma negatif yang kerap menganggap perempuan terkekang, tersisih dari dinamika sosial, atau tidak memiliki peran nyata di masyarakat perlahan mulai terbantahkan. Pada akhirnya, kontribusi nyata perempuan di berbagai bidanglah yang menjadi jawaban sekaligus pendobrak hambatan dalam perjuangan kesetaraan gender saat ini.