Program Student Mobility Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) ke Malaysia pada 7-11 Juni 2026 lalu menyisakan jejak kemanusiaan yang mendalam. Tak sekadar menjalankan agenda akademik di kampus-kampus mitra, para delegasi terjun langsung merangkul anak-anak dari keluarga pekerja migran Indonesia (PMI) di Sanggar Bimbingan At Tanzil, Kuala Lumpur.
Koordinator Program Student Mobility Fakultas Psikologi UMBY, Nanda Yunika Wulandari, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan selama lima hari tersebut dirancang komprehensif.
“Delegasi mengikuti kegiatan akademik mulai dari lawatan ke Fakulti Pembangunan Manusia Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), berkegiatan bersama anak-anak di National Child Development Research Centre (NCDRC), hingga sesi akademik di INTI International University. Namun, kegiatan di Sanggar Bimbingan At Tanzil pada hari keempat menjadi salah satu momen yang paling membekas,” ungkap Nanda.
Realita sosial langsung tersaji saat mahasiswa menyambangi Sanggar Bimbingan At Tanzil. Berlokasi di lantai dua sebuah bangunan yang relatif tersembunyi dari pandangan umum, sanggar ini menjadi oase pendidikan bagi sekitar 40 anak pekerja migran Indonesia.

Setiap harinya, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 waktu setempat, anak-anak ini dititipkan untuk belajar. Mayoritas orang tua mereka bekerja penuh waktu sebagai buruh pabrik, pencuci piring restoran, hingga pekerja perkebunan sawit. Sanggar ini pun mengambil peran krusial sebagai tempat belajar sekaligus penitipan pengganti sekolah formal.
Sayangnya, akses pendidikan anak-anak ini terhalang tembok regulasi.
“Anak-anak di sanggar tersebut memiliki keterbatasan masa belajar yang hanya dapat diakses hingga usia 16 tahun, atau setara jenjang SMP. Setelah melewati batas usia itu, mereka harus kembali ke Indonesia karena tidak ada fasilitas kelanjutan pendidikan formal di Malaysia bagi anak-anak dalam situasi keimigrasian tersebut,” papar Nanda Yunika prihatin.
Di Sanggar Bimbingan At Tanzil, mahasiswa menjalankan kegiatan edukasi dan pelatihan yang ditujukan kepada seluruh peserta didik yang hadir. Kegiatan tersebut merupakan implementasi dari tugas mata kuliah praktikum Intervensi Dasar II: Kelompok dan Komunitas.
“Seluruh mahasiswa peserta kegiatan Student Mobility, tidak hanya melakukan kunjungan ke beberapa kampus rekanan, namun juga melakukan implementasi kegiatan perkuliahan dalam bentuk psikoedukasi yang nantinya kegiatan tersebut menjadi penugasan yang akan dikonversi ke mata kuliah terkait,” jelas Nanda.
Di awal kegiatan mahasiswa memperkenalkan diri, kemudian membagi beberapa kegiatan yang salah satunya adalah mendongeng.
“Setelah membacakan cerita, kami mengajak siswa-siswa untuk bermain tebak jawaban seputar nilai-nilai kemanusiaan yang terkandung dalam cerita, memberikan kegiatan motivasi, permainan hingga penanaman nasionalisme yang diberikan dengan cara yang sesuai dengan usia anak-anak tersebut, yaitu bermain,” terang Jhon Carlos Ramot Banjarnahor, yang merupakan penanggungjawab kegiatan tersebut.
Kompleksitas isu ini kemudian dibedah lebih dalam saat delegasi UMBY menyambangi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur pada hari terakhir program. Delegasi berdialog langsung dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Kuala Lumpur, Ir. R. Ahmad Romadhani Surya Putra, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.

Dalam diskusi tersebut, Ahmad Romadhani menjelaskan konteks keberadaan sanggar bimbingan non-formal yang dikelola mandiri oleh kelompok masyarakat. Menurutnya, otoritas Malaysia secara umum bersikap akomodatif terhadap keberadaan sanggar semacam ini, dengan catatan tidak menimbulkan keramaian atau perhatian berlebih di lingkungan sekitar. Hal ini merupakan kompromi tak tertulis demi menjaga keberlangsungan akses belajar anak-anak pekerja migran di tengah limitasi status keimigrasian mereka.
Pengalaman berharga ini membuka mata para mahasiswa UMBY mengenai rumitnya isu pendidikan anak pekerja migran, yang bertalian erat dengan status hukum, kebijakan imigrasi, dan diplomasi dua negara.
Salah satu peserta program, Wahyuni Widyaningsih yang merupakan peserta student mobility dari kelas karyawan mengaku program ini berhasil menajamkan kepekaan sosialnya.
“Dari kunjungan ke KBRI sampai mengajar anak-anak di At Tanzil, saya belajar bahwa menjadi mahasiswa bukan sekadar mengejar nilai akademik di kelas. Lebih dari itu, ada tuntutan kepekaan sosial dan rasa tanggung jawab kita sebagai representasi bangsa untuk peduli pada sesama,” ungkap Widya.