Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) rutin melakukan pengabdian kepada masyarakat (PkM) sebagai bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kali ini, kegiatan diwujudkan melalui seminar parenting bertajuk “Orang Tua Bertumbuh, Anak Tangguh” yang bekerja sama dengan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta.
Kegiatan ini dipimpin oleh Ranni Merli Safitri, S.T., M.T., Ph.D. sebagai ketua tim, dengan anggota tim Santi Esterlita Purnamasari, M.Si., Psikolog yang sekaligus menjadi pemateri utama. Seminar dilaksanakan secara daring melalui Zoom pada Rabu, 8 April 2026, dan diikuti oleh 40 orang tua binaan dari Dinas Perpustakaan.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Yogyakarta, Afia Rosdiana, M.Pd., membuka acara dan menyampaikan apresiasi atas kolaborasi antara institusi pemerintah dan pendidikan. Ia menilai kegiatan ini sebagai langkah strategis dalam meningkatkan literasi keluarga, khususnya dalam pengasuhan anak berbasis ilmu psikologi.
Ketua tim pengabdian, Ranni Merli Safitri, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan orang tua dalam memahami dinamika perkembangan emosi anak di era modern.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membantu orang tua memiliki pemahaman yang lebih tepat tentang emosi anak, sehingga mereka tidak hanya bereaksi, tetapi mampu merespons dengan cara yang lebih bijak dan mendukung perkembangan anak secara optimal,” ujarnya.
Dalam sesi utama, Santi Esterlita Purnamasari memaparkan materi berjudul “Mengenal & Menemukan Permasalahan Emosi Anak.” Ia menekankan pentingnya orang tua memahami ekspresi emosi anak sebagai bentuk komunikasi serta mengenali tanda-tanda permasalahan emosi sejak dini.
“Seringkali perilaku anak dianggap sebagai masalah, padahal itu adalah cara anak berkomunikasi tentang apa yang ia rasakan. Tugas orang tua bukan hanya menghentikan perilaku, tetapi memahami emosi di baliknya,” jelas Santi.
Ia juga menambahkan bahwa kemampuan regulasi emosi tidak muncul secara instan, melainkan perlu dilatih melalui interaksi sehari-hari yang konsisten dan penuh empati.
“Anak belajar mengelola emosi dari cara orang tua merespons. Ketika orang tua mampu hadir dengan tenang dan memahami, anak akan belajar melakukan hal yang sama,” tambahnya.
Lebih lanjut, Santi menjelaskan bahwa beberapa tanda yang dapat dikenali sebagai indikasi permasalahan emosi pada anak antara lain perilaku agresif seperti memukul atau menendang, sering menolak atau menghindari komunikasi, kesulitan mengekspresikan perasaan, serta ketergantungan berlebihan pada gawai. Ia menegaskan bahwa kondisi tersebut dapat diatasi melalui pendekatan yang konsisten, seperti membangun komunikasi empatik, membantu anak mengenali dan menamai emosinya, memberikan batasan yang jelas, serta menjadi model regulasi emosi yang baik bagi anak.
Seminar berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta. Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, mulai dari cara menghadapi anak yang menghindari pembicaraan tentang emosi, mengatasi perilaku agresif pada anak usia dini, hingga tantangan dalam mengatur penggunaan gawai dan screen time.
Salah satu peserta, Nur Fitriatus Shalihah, mengaku mendapatkan wawasan baru dari kegiatan ini.
“Materinya sangat relate dengan kondisi saya sebagai orang tua. Saya jadi lebih paham bahwa perilaku anak bukan sekadar ‘nakal’, tetapi ada emosi yang perlu dipahami. Penjelasan Ibu Santi juga praktis dan bisa diterapkan di rumah,” ujarnya.
_1775788508.jpeg)