Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) kembali mengukuhkan guru besar baru. Yakni Prof. Dr. Rahma Widyana, S.Psi., M.Si., Psikolog dengan Ranting Ilmu Psikologi Pendidikan: Psikologi Sekolah. Hingga kini, UMBY telah memiliki tujuh guru besar.
Acara berlangsung dengan dihadiri sivitas akademika, jajaran pimpinan, serta tamu undangan di Ruang Seminar Kampus 1 UMBY, Selasa (07/04/2026). Pada kesempatan tersebut Prof. Dr. Rahma Widyana, S.Psi., M.Si., Psikolog menyampaikan pidato ilmiah dengan topik sesuai kepakaran atau keilmuan berjudul ‘Rekontekstualisasi Teori Pilihan Karier Dalam Budaya Kolektivistik: Fondasi Bimbingan Karier yang Responsif Budaya di Sekolah Indonesia”.
_1775706258.jpeg)
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Rahma mengungkapkan adanya ketidaksesuaian antara minat dan cita-cita sehingga hal tersebut masih menjadi persoalan serius di kalangan siswa SMA di Indonesia. Fenomena ini dinilai turut memicu maraknya kasus salah jurusan di perguruan tinggi yang berdampak pada kurang optimalnya pengembangan karier di masa depan.
“Kesesuaian atau kongruensi antara cita-cita dengan minat siswa SMA di Indonesia saat ini masih berada pada kategori sedang. Banyak siswa yang menentukan masa depan bukan berdasarkan potensi diri, melainkan faktor eksternal”, kata Prof. Rahma.
Menurutnya, intervensi keluarga serta orientasi terhadap prestise masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi pilihan jurusan siswa. Akibatnya, banyak siswa yang tidak memilih bidang studi berdasarkan minat dan potensi diri. Ia juga mengkaji fenomena tersebut menggunakan teori John Holland yang mengelompokkan minat ke dalam enam tipe, yaitu realistik, investigatif, artistik, sosial, enterprising, dan konvensional. Fokus riset ini adalah melihat relevansi tipe-tipe tersebut dengan karakter anak muda di Indonesia serta mencari tipe mana yang paling dominan.
"Anak-anak di Indonesia itu kadang bermimpi sesuatu karena keinginan keluarga, mengejar prestise, atau sekadar tren sosial," ujarnya dalam pidato pengukuhan guru besar.
Rahma Widyana sendiri punya cerita unik ketika SMA, ia sempat dipaksa oleh guru sekolah untuk masuk ke jurusan IPA , mengingat ia memiliki nilai bagus. Akan tetapi, ia memilih untuk tetap masuk ke jurusan IPS karena memiliki passion di bidang tersebut. Namun saat SMA tersebut ia mampu membuktikan meraih nilai ujian akhir tertinggi setingkat provinsi.
"Ketika disuruh masuk ke IPA, saya waktu itu sempat bertanya ke guru, yang akan menjalani sekolah, saya atau bapak? akhirnya saya tetap memilih jurusan IPS karena sesuai dengan minat saya," ucapnya.
Peristiwa itu terus dikenang dan dijadikan pelajaran baginya bahkan menjadi materi yang terus dikawal dalam berbagai penelitian akademiknya terkait fenomena salah jurusan. Di mana fenomena tersebut biasanya dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti orang tua, lingkungan hingga sekadar tren.
Lanjut Prof. Rahma, jika pilihan jurusan hanya didasari oleh aspek finansial atau gengsi semata, dampaknya akan terlihat saat mereka memasuki dunia kerja.
"Hasilnya tidak akan optimal. Mereka bisa saja sukses secara materi, tapi tidak memiliki kepuasan kerja karena bidang yang ditekuni bukan passion-nya," imbuhnya.
Selain faktor internal siswa, peran orang tua menjadi kunci utama dalam meminimalisir risiko salah jurusan. Ia menekankan agar orang tua tidak egois dalam memaksakan kehendak terkait masa depan anak.
"Orang tua tentu punya cita-cita untuk anaknya, tapi harus dilihat juga tipe minat si anak seperti apa. Jangan sampai memaksakan 'saya ingin kamu jadi ini', tanpa melihat kecocokan bidang tersebut dengan karakter anak," jelasnya.
_1775706275.jpeg)