Tingkatkan Kualitas Pelayanan dan Kesiapsiagaan, UMBY Bekali Tendik Pelatihan Service Excellence dan Bantuan Hidup Dasar
26 Jun 2026
146
by Farida Dian Farida Dian

Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) melalui Biro Sumber Daya terus berkomitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Upaya ini diwujudkan melalui Program Pengembangan dan Peningkatan Kompetensi Tenaga Kependidikan Tahun 2026 yang digelar pada 17 hingga 18 Juni 2026 di Ruang Seminar Kampus 1 UMBY.

Pelatihan yang wajib diikuti oleh seluruh Tenaga Kependidikan (Tendik) di lingkungan UMBY ini difokuskan pada dua aspek yakni pelayanan prima (Service Excellence) dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat medis.

Kepala Bagian Sumber Daya Manusia (SDM) UMBY, Azmi Fauzi, S.H., CRSS., mengungkapkan bahwa kegiatan ini bertema "Membangun Budaya Pelayanan Prima Berbasis Nilai Keris untuk Meningkatkan Profesionalisme Layanan di UMBY". Menurutnya, sesuai Peraturan Pegawai, Tendik UMBY berhak mendapatkan pelatihan tahunan demi mendongkrak kemampuan manajerial, kualitas, dan produktivitas kerja.

"Sejak 2024, SDM UMBY secara konsisten mengadakan pelatihan, baik untuk pegawai baru, pelatihan bagi pegawai aktif, hingga pelatihan pra-pensiun dan pascapensiun. Mudah-mudahan rencana ini dapat berjalan dengan baik dan bermanfaat bagi kita semua," ujar Azmi.

Pada sesi pertama, UMBY menghadirkan Patrick Yesandro Pristantyo, M.Psi., Psikolog., seorang pakar Psikologi Industri Organisasi yang berfokus pada pelatihan dan internalisasi nilai SDM. Patrick menegaskan bahwa pelayanan prima adalah fondasi utama bagi kesuksesan jangka panjang sebuah institusi pendidikan.

"Layanan prima adalah kunci untuk membangun loyalitas pelanggan, meningkatkan rekomendasi dari mulut ke mulut, serta menjaga reputasi organisasi. Implementasinya sebenarnya sangat sederhana, bisa dimulai dengan selalu tersenyum dan bersikap ramah kepada mahasiswa maupun kolega," jelas Patrick.

Lebih lanjut, Patrick merujuk pada konsep pengelolaan emosi dari sosiolog Arlie Hochschild. Menurutnya, dalam pekerjaan yang menuntut pelayanan, seorang karyawan tidak hanya mengerahkan tenaga fisik dan pikiran, tetapi juga dituntut untuk melakukan "kerja emosional". Artinya, karyawan harus mampu mengelola emosi pribadi agar tetap tampil ramah, tenang, dan tersenyum sesuai standar organisasi, apa pun kondisi yang sedang dihadapi.

"Hati yang bahagia adalah hal terpenting dalam Service Excellence. Kita tidak bisa menuangkan air dari teko yang kosong. Anda harus mengisi 'teko' diri Anda sendiri dengan kebahagiaan dan kepuasan hidup sebelum bisa membagikan energi positif tersebut kepada orang lain," pesan Patrick.

Tidak hanya membekali Tendik dengan kemampuan pelayanan, Biro Sumber Daya UMBY juga berkolaborasi dengan Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI) Unit VIII UMBY dan mengundang perwakilan PMI Kota Yogyakarta untuk membawakan materi Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dan Bantuan Hidup Dasar (BHD).

Materi krusial ini disampaikan oleh Raya Rusavandi. Ia memaparkan bahwa pertolongan pertama adalah tindakan medis dasar yang sangat menentukan keselamatan nyawa seseorang sebelum tenaga medis profesional tiba.

"Pertolongan pertama adalah pemberian bantuan segera kepada penderita sakit atau cedera. Tindakan medis dasar ini dirancang sedemikian rupa agar dapat dipelajari dan dilakukan oleh orang awam yang terlatih. Kesiapsiagaan ini mutlak diperlukan di lingkungan kampus untuk mengantisipasi kondisi darurat," ungkap Raya.

Sebagai puncak acara, seluruh Tendik UMBY diajak untuk mempraktikkan langsung teknik Resusitasi Jantung Paru (RJP) atau Cardiopulmonary Resuscitation (CPR). Berikut adalah langkah-langkah krusial RJP yang dilatihkan kepada para peserta:

  • Pastikan Prinsip 3A (Aman): Mengamankan diri sendiri, mengamankan lingkungan sekitar, dan mengamankan korban sebelum memberikan pertolongan.
  • Cek Kesadaran Korban: Memanggil korban dengan suara keras atau menepuk bahu korban untuk memastikan tingkat kesadaran.
  • Meminta Pertolongan: Segera berteriak meminta bantuan orang sekitar dan menghubungi nomor telepon darurat atau tim medis terdekat.
  • Kompresi Dada (Chest Compression): Meletakkan salah satu pangkal telapak tangan di tengah tulang dada korban, lalu menumpuknya dengan tangan yang lain. Lakukan tekanan secara kuat dan cepat dengan kedalaman sekitar 5-6 cm.
  • Buka Jalan Napas (Airway): Membuka jalan napas korban dengan teknik menengadahkan kepala dan mengangkat dagu (head-tilt chin-lift).
  • Pemberian Napas Buatan (Breathing): Memberikan bantuan napas dari mulut ke mulut apabila diperlukan, dengan siklus 30 kompresi dada berbanding 2 kali napas buatan.

Antusiasme dan manfaat dari kegiatan ini sangat dirasakan oleh para peserta. Sherly Oktaviana Putri, S.Pd., salah satu Tendik dari Fakultas Psikologi, mengungkapkan bahwa pelatihan ini memberikan wawasan baru yang aplikatif.

“Materi yang disampaikan mudah dipahami dan relevan dengan pelayanan sehari-hari. Narasumber juga memberikan penjelasan dari aspek psikologi yang membantu saya memahami pentingnya empati, komunikasi yang baik, dan sikap profesional dalam memberikan pelayanan. Selain itu, praktik RJP dari PMI membuat kami lebih percaya diri dan tidak panik jika sewaktu-waktu ada mahasiswa atau rekan kerja yang pingsan atau butuh pertolongan medis darurat di area kampus,” tuturnya.