Senjakala Pendidikan Pertanian
01 Sep 2006
2421
by Admin Demo
Oleh : Untung Iskandar Srihardiono *)
rektor_serhkan_pohon.jpgTULISAN ini merupakan respons positif atas "keluhan" Dr Triwibowo Yuwono (KR, 20 Juli 2006). Sebelum menunjuk pelaku lain, kita lihat saja sikap para pakar pertanian tentang kondisi pertanian Indonesia. Mereka tidak bersikap. Tidak ada reaksi atas kenaikan harga pupuk, impor beras di kala produksi melimpah, kekurangan pangan, kelebihan produksi cabai Bantul, dan sebagainya. Nampaknya antara petani dan pakar pertanian ada jurang yang sangat lebar.
Yang sangat positif, tulisan itu kental dengan semangat nasionalisme. Simak, "ketidakmampuan dalam mengelola sumber daya alam untuk menghasilkan bahan pangan merupakan bencana besar bagi suatu negara karena akan menyebabkan ketergantungan terhadap negara lain dalam penyediaan pangan bagi rakyat". Simak juga "pengembangan pendidikan pertanian harus menjadi salah satu prioritas dalam pengembangan sistem pendidikan dalam upaya menegakkan kemandirian bangsa". Bila "kemandirian bangsa" itu diubah dengan "kedaulatan" maksud dua kalimat itu makin jelas, yaitu bila pertanian untuk menghasilkan pangan bukan lagi prioritas, bangsa ini tidak akan lagi berdaulat. Kalimat pertama menegaskan "bangsa yang sumber pangannya bergantung pada bangsa lain. Bila sebuah bangsa mencapai posisi itu, jadi di manakah "kemerdekaan dan kedaulatan bangsa". Rupanya pola pikir penulis adalah bangsa merdeka dan berdaulat adalah bangsa yang mampu menyediakan sendiri pangan di dalam jumlah cukup dan berimbang.
Pola pikir ini perlu didukung, karena sangat aneh bila untuk makan sehari-hari satu bangsa harus impor atau yang lebih memalukan harus berutang atau lebih memalukan lagi harus dibantu bangsa lain. Sebaliknya, sebagai sebuah bangsa yang berlokasi di sekitar equator yang cahaya mataharinya berdurasi panjang dan lahan subur (kata moyang kita), bangsa ini harus mampu memproduksi untuk bangsa sendiri plus untuk membantu bangsa lain yang kondisinya kurang subur dan kurang cahaya matahari. Repotnya lagi, ternyata sebagai bangsa tempe pun bangsa kita masih harus impor kedelai, sehingga tempe seharusnya masuk di dalam makanan "mewah" karena diimpor. Mungkin juga ragi pembuatnya juga impor. Kalau begitu sudah lengkaplah, dari beras sampai tempenyapun diimpor atau dibantu bangsa lain.
Dengan demikian, para praktisi pendidikan tinggi pertanian dan semua pihak yang peduli dengan nasionalisme dan kedaulatan, sebaiknya mulai mengkampanyekan realisasi "nasionalisme dan kedaulatan" dengan makan dari hasil kerja putra-putri bangsa, sangat ironis dan menyakitkan bila makanan tradisional dibuat dari bahan impor (misalnya lumpia dan bakpia menggunakan gandum sebagai bahan baku, kecuali gandum produksi nasional). Syaratnya produksi pertanian melimpah.
Sebuah butir penting lainnya yang berdampak pada pendidikan pertanian adalah pernyataan beliau "dunia sekarang adalah dunia citra". Sektor pertanian tidak memiliki citra yang dapat diketengahkan, bukan PDA, bukan vodka, mungkin bukan dasi dan kantor mewah. Citra harus dibentuk, tidak akan tumbuh sendiri. Sayangnya, sektor ini tidak memiliki personel atau lembaga pembentuk citranya. Juga, profesi "petani" berbeda dengan profesi dokter, akuntan dan ekonom. Yang disebut terakhir ini masuk sebagai profesi, dengan anggota kelompok terdidik dan terlatih. Kelompok "profesi" pertama -- petani -- adalah profesi tradisional, turun-temurun, tidak terdidik dan terlatih. Karena tidak terdidik dan terlatih, mereka digambarkan tidak dapat keluar dari lingkaran keterbelakangan. Jadi tantangan yang dihadapi oleh para praktisi pendidikan tinggi pertanian dan pemeduli, adalah membangun citra pertanian yang "modern", yang "Barat", "yang chick", yang "wangi", yang "computer based".
Bila dicermati lebih mendalam serta melihat kejadian di sekeliling kita di Yogyakarta ini, makin nampak secara faktual bahwa sektor pertanian secara perlahan menyusut. Apa yang dilihat bulan yang lalu sawah menguning padinya, sekarang sudah dikeringkan dan sawah dikonversi menjadi permukiman mewah, atau mal, atau bangunan "bercitra" lainnya. Bila dahulu masih dapat menikmati pemandangan sawah di antara gedung besar dan hotel, sekarang pemandangan seperti itu sudah hilang. Bila lahan menyempit, padahal kebutuhan tidak berubah atau meningkat (karena ingin masuk ke kelompok citra dengan telepon genggam dan PDA), maka "petani" harus mencari produk-produk yang dapat tumbuh di lahan yang makin sempit itu, namun berharga mahal. Pilihannya bukan lagi pertanian pangan (padi, jagung, kedelai) melainkan pertanian tanaman hias, pertanian tanaman hortikultura untuk konsumsi kalangan "atas" the haves, atau bahkan konsumsi pasar ekspor. Di sinilah tantangan kepada pendidikan pertanian untuk mendidik sarjana pertanian dan menyuluh masyarakat petani non sarjana agar responsif terhadap kecenderungan itu.
Memang absurd bila dicermati bahwa icon produk Sleman yaitu salak pondoh belum digarap dengan serius oleh perguruan tinggi. Padahal tantangannya sangat banyak agar dapat masuk ke pasar global, sebagai upaya mengembangkan citra icon tersebut. Tantangan itu antara lain keseragaman ukuran, keseragaman warna, rasa dan sebagainya, termasuk juga shelf life yang cukup tinggi agar dapat diekspor. Bila icon Gunungkidul adalah kambing kacang yang berukuran kebil namun enak dimasak sate, para pakar peternakan sebaiknya memfokuskan perhatian ke sana, misalnya agar banyak anak sehat, mengandung sedikit lemak bahan baku kolesterol tubuh dan bebas penyakit sehingga penyantap satenya yakin mereka tetap sehat dengan menyantapnya. Pada saat yang sama petani Bantul harus menderita karena produk cabainya berharga rendah, bila dijual begitu saja. Ironisnya, tidak ada pakar teknologi pangan dan juga lembaga pendidikan tinggi pertanian yang turun tangan membantu petani cabai Bantul dengan mengenalkan teknologi pengolahan pangan sederhana. Beberapa pakar yang sempat belajar di luar negeri misalnya di Amerika Serikat mestinya pernah melihat acar cabai buatan Thailand. Mestinya teknologinya murah sudah tersedia. Ironisnya lagi kejadian itu selalu berulang sehingga nampak seperti ritual tahunan (yang tragis).
Bila dipikirkan, hampir semua produk pertanian dapat mengembangkan citra pelaku dan citra daerah asal, sesungguhnya di sanalah profesi petani tidak dapat diabaikan. Di masa lalu tak seorang pun yakin bahwa suatu saat Lampung akan menjadi lumbung pisang. Mestinya produk yang sudah memiliki pasar ditunjang dengan pendidikan, pelatihan profesi dan penelitian. Jadi pendidikan tinggi yang mengemban triple excellence (pendidikan, penelitian, penyuluhan ke masyarakat) dapat memilih beberapa kepakaran dalam bidang komoditas pertanian, baik pangan maupun bukan pangan. Kepakaran itu sebaiknya spesifik lokasi.
Bagi yang sudah berkelana di luar negeri, bila berkesempatan menikmati perjalanan sepanjang desa di Eropa Barat akan melihat banyak sekali sapi perah. Di New Zealand, jumlah biri-biri jauh lebih daripada jumlah penduduk. Bangsa Amerika Serikat yang bukan bangsa pemakan beras menghasilkan sebuah varietas beras, Texas Long Grain, yang berharga mahal karena sangat enak rasanya. Di sana pula ada pertengkaran tentang patent beras Basmati yang asli India. Pertengkaran ini menunjukkan bahwa bangsa yang sudah sangat maju industrinya di segala bidang masih memusatkan usaha pada pembangunan pertanian. Amerika Serikat juga pernah bertengkar dengan Uni Eropa perihal perdagangan pisang. Buku-buku tentang globalisasi juga bercerita bahwa negara maju menuntut negara berkembang meliberalisasi sektor pertaniannya, tetapi pada saat yang sama justru melindungi sektor itu. Lihat saja apel Amerika Serikat yang masuk ke Indonesia diberi label "a proud product of Lake Chelan". Champagne yang menjadi icon kemewahan, juga dilabel nama tempat. Di luar itu barang sama namanya bukan itu. Jadi maksudnya adalah bahwa mereka bangga produk pertanian dari wilayahnya. Empat puluh tahun yang lalu negara bagian Wisconsin dengan bangga menyebut dirinya sebagai "America's Dairy Land". Pemimpin pertanian negara berkembang tidak mengetahui maksud dan dampak istilah itu jadinya ya ho-oh, ho-oh saja. Jadi yang memang tragis perundingan tidak pada level playing field.
Komentar terakhir, mengapa pengertian kita tentang pertanian selalu diawali dengan sawah dan sebagainya? Ada titik masuk baru yang sudah dilakukan bangsa lain, yaitu subsektor peternakan (cattle raising, animal husbandry). Wisconsin yang dipaparkan di atas, mestinya mempunyai populasi sapi yang jauh lebih banyak dari jumlah penduduknya. Demikian juga penghasil mentega (butter) Denmark dan New Zealand mestinya juga memiliki ciri khas yang sama. Pasalnya, ternak butuh makan, yang dapat dipenuhi dengan menanami kawasan marginal dengan hijauan makanan ternak (HMT). Produk teletongnya bila jumlah besar dapat digunakan untuk pupuk organik setelah diperas gas metannya. Pupuk organik digunakan untuk memupuk bahan pangan atau bahan baku industri atau komoditas dagang (buah, bunga, sayur). Kawasan kritis yang ditanami dengan HMT akan membaik kualitas lingkungannya. Mungkin banjir dan kekeringan dapat dihindari dan dicegah. Belum lagi hasil kulit dapat dibuat sepatu (pseudo Bally atau Salamander) dan jok mobil (pseudo Connoly leather). Produk susu adalah bahan baku industri yang memiliki kaitan kebelakang yang luas dan dibutuhkan masyarakat. Demikian pula daging yang dapat diproses menjadi berbagai produk.
Agar persepsi "pertanian" berubah, perubahan dimulai dari pendidikannya.
*) Dr Ir Untung Iskandar Srihardiono MSc, Rektor Unwama Yogyakarta..