Seminar Wirausaha Sosial dan Kemandirian Bangsa di UMB Yogya
10 Jan 2011
39
by Admin Demo

Yogyakarta (10/1), Perkumpulan Belajar SEKRA didukung Pusat Studi Kewirausahaan (PSKw) UMB Jogja kembali menggelar seminar bertajuk “Wirausaha Sosial untuk Kemandirian Bangsa”, kemarin 6 Januari 2011 di Fakultas Agroindustri. Seminar yang diikuti sekitar 100 peserta tersebut menghadirkan narasumber Agus Setiyoko (wirausaha Burger Tempe) dan Nandhes (Penulis), keduanya mahasiswa UMB Jogja, serta pembicara utama Awan Santosa, S.E, M.Sc (Ekonom Kerakyatan) sebagai sekretaris PSKw UMB Jogja.

Dalam paparannya Agus menyampaikan bahwa wirausaha sosial dapat dilakukan melalui inovasi pangan lokal. Usaha burger tempe-nya yang hanya bermodal awal Rp. 100 ribu saat ini sangat diminati konsumen, sehingga menurutnya berpeluang besar untuk menjadi makanan lokal berkelas internasional. Sementara Nandhes mengajak mahasiswa untuk merintis wirausaha sosial di dunia penulisan yang terbukti memberikan manfaat besar baik material maupun sosial. Menurutnya mahasiswa haruslah mempunyai karya, dan karya seorang intelektual adalah tulisan. Awan Santosa menyampaikan bahwa ia bersama mahasiswa UMB Jogja. sedang berusaha mengembangkan wirausaha sosial melalui “Perguruan Tinggi Desa (PTDes)” dengan visinya sebagai “knowledge of the poor” dan “Desamart” yang hendak dijadikannya sebagai “marketing of the poor” bagi masyarakat perdesaan. Usaha itu didasari keprihatinannya atas ekonomi Indonesia yang masih menjadi pasaran bagi perusahaan pertanian, susu, kecap, air minum, sabun, pasta gigi, shampoo dari luar negeri. Hampir semua bahan baku) produk tersebut ada di desa, tetapi desa pun masih menjadi pasaran produk perusahaan multinasional. Menurutnya ironis ketika saat ini urusan di kamar mandi dan dapur pun dipasrahkan pada pemodal besar yang berada jauh di Den Hag, New York, London, dan Paris. Padahal sebuah bangsa tanpa kecukupan industrialis dan wirausahawan, maka kegiatan ekonominya justru lebih memperbesar usaha dan memperbanyak pekerjaan bagi bangsa luar. Pada akhirnya lulusan perguruan tinggi banyak yang kesulitan mendapatkan pekerjaan, sehingga wirausaha sosial disebutkannya sebagai solusi kemandirian baik bagi mahasiswa, masyarakat desa, maupun bangsa dan negara. (Gandung)