Psikolog UMBY Bicara Pulihkan Luka Korban Little Aresha: Pentingnya Play Therapy dan Peran Orangtua sebagai Secure Base
05 May 2026
134
by Fitriana Fitriana

Praktisi Psikolog Klinis Anak sekaligus Dosen Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Angelina Dyah Arum Setyaningtyas M.Psi., Psikolog, menguraikan berbagai ancaman krisis psikologis fatal bagi anak usia dini. Hal ini berdasarkan kasus yang tengah terkuat di tempat penitipan anak (daycare) Little Aresha.

Angel mengingatkan bahwa perlakuan tidak manusiawi di masa keemasan tersebut berisiko memicu Adverse Childhood Experiences (ACE) yang dapat merusak sistem regulasi emosi dan rasa percaya dasar anak secara permanen. Temuan kepolisian Polresta Yogyakarta mengungkap adanya tindakan di luar batas kemanusiaan, di mana anak-anak ditemukan dalam kondisi terikat tangan dan kakinya.

Menurut Angelina, kekerasan fisik dan emosional yang terjadi di masa golden age bukan sekadar luka sesaat, melainkan ancaman terhadap struktur pembentukan karakter. Dalam kacamata psikologi perkembangan, anak-anak ini sedang berada pada fase krusial menurut teori Erik Erikson.

"Hal ini menjadi semakin krusial karena pada usia dini, dimana pada tahap ini anak berada dalam tahap perkembangan trust vs mistrust menurut Erik Erikson, yaitu fase di mana anak belajar apakah dunia dapat dipercaya atau tidak melalui pengalaman dengan pengasuhnya. Ketika anak justru mengalami penelantaran atau kekerasan, maka yang terganggu bukan hanya emosi sesaat, tetapi juga pembentukan rasa percaya dasar terhadap lingkungan," papar Angelina.

Kondisi ini, jika tidak segera ditangani, akan menjadi faktor risiko besar bagi anak untuk mengalami hambatan konsentrasi, kesulitan belajar, hingga perilaku regresif—di mana anak menunjukkan perilaku yang tidak sesuai dengan usianya sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri dari trauma.

Mengingat banyak korban yang belum memiliki kemampuan verbal untuk menceritakan kekejaman yang mereka alami, Angelina menekankan bahwa metode asesmen harus berbasis trauma-informed care.

Pendekatan yang paling tepat adalah melalui observasi perilaku dan Play Therapy.

"Pendekatan yang digunakan umumnya berupa observasi perilaku, misalnya perubahan pola tidur, makan, atau respons anak saat berpisah dengan orang tua. Selain itu, relasi anak dengan figur pengasuh juga menjadi indikator penting, apakah anak menunjukkan kelekatan yang aman atau justru ketakutan dan penarikan diri. Salah satu pendekatan yang bisa digunakan adalah dengan pendekatan Play Therapy, karena bermain merupakan bahasa alami anak untuk mengekspresikan pengalaman emosional tanpa tekanan," jelasnya.

Ia juga mewanti-wanti tim penyidik maupun orangtua agar tidak melakukan wawancara yang bersifat menekan kepada anak. 

"Yang terpenting dalam proses ini adalah (jangan) memaksa anak untuk 'bercerita' atau melakukan wawancara yang menekan, karena justru dapat memperparah trauma. Oleh karena itu, asesmen sebaiknya dilakukan secara bertahap oleh profesional, dengan fokus utama bukan menggali kejadian, tetapi memahami apakah anak merasa aman atau tidak," ujarnya.

Angelina juga menyoroti kondisi psikologis orangtua korban yang mengalami trust issue dan parental guilt.

Kondisi ini diperburuk oleh reaksi publik di media sosial yang seringkali menyudutkan keputusan orangtua untuk menitipkan anak di daycare.

"Situasi ini sering diperparah oleh komentar di media sosial yang menyalahkan orang tua karena menitipkan anak di daycare, padahal keputusan tersebut umumnya diambil dalam konteks kebutuhan dan kepercayaan. Stigma seperti ini justru memperdalam luka dan menghambat pemulihan," tuturnya.

Untuk itu, diperlukan family therapy yang membantu orangtua meregulasi emosi diri mereka sendiri terlebih dahulu sebelum mampu menjadi secure base atau sandaran aman bagi anaknya yang trauma.

Pasca-instruksi penyisiran daycare oleh Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X dan penutupan paksa Little Aresha, anak-anak korban kini menghadapi tantangan baru berupa hilangnya rutinitas mendadak.

Angelina menyarankan agar orangtua tetap menjaga rutinitas inti di rumah seperti jam tidur dan makan untuk memberikan rasa "dunia yang dapat diprediksi" bagi anak.

"Lakukan pengenalan lingkungan atau pengasuh baru secara perlahan, misalnya dengan kunjungan singkat terlebih dahulu, didampingi orang tua, tanpa dipaksa langsung berpisah. Gunakan komunikasi sederhana dan menenangkan, meskipun anak belum sepenuhnya memahami. Nada suara yang hangat dan konsisten membantu anak merasa lebih aman," saran Angelina.

Menutup analisisnya, Angelina menekankan lima indikator esensial yang harus diakomodasi dalam SOP baru daycare di DIY guna memastikan tragedi serupa tidak terulang. 

Hal itu dimulai dari kapasitas regulasi emosi pengasuh yang wajib memiliki kemampuan untuk tetap tenang dan tidak reaktif dalam kondisi stres, yang dapat diukur melalui pelatihan serta evaluasi berkala.

Selain itu, penetapan rasio jumlah anak dan pengasuh yang ideal—terutama bagi usia bayi dan toddler—menjadi krusial untuk memastikan setiap anak mendapatkan respons yang cukup serta meminimalkan risiko penelantaran akibat beban kerja yang berlebih.

Pengasuh juga dituntut memiliki kompetensi dasar perkembangan anak agar memahami bahwa respons yang konsisten dan hangat adalah fondasi kesehatan mental, bukan sekadar aktivitas menjaga fisik anak.

Lebih lanjut, Angelina mendesak penguatan sistem monitoring dan transparansi, termasuk supervisi rutin, akses orang tua terhadap aktivitas anak, serta mekanisme pelaporan yang aman jika terjadi pelanggaran.

Terakhir, penciptaan lingkungan yang mendukung regulasi emosi anak harus diwujudkan melalui rutinitas yang stabil, interaksi yang hangat, dan penerapan pendekatan disiplin tanpa kekerasan.

“Karena pada akhirnya, daycare yang baik bukan yang paling lengkap fasilitasnya, tetapi yang paling mampu menjaga rasa aman anak dan itu dimulai dari kualitas relasi antara pengasuh dan anak,” pungkasnya.



 

Sumber : https://jogja.tribunnews.com/newsanalysis/1213650/memulihkan-luka-korban-little-aresha-pentingnya-play-therapy-dan-peran-orangtua-sebagai-secure-base