Hardiknas 2026: Akademisi UMBY Tekankan Inovasi dan SDM untuk Indonesia Emas 2045
04 May 2026
115
by Fitriana Fitriana

Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap 2 Mei menjadi momentum krusial untuk merefleksikan kembali arah pendidikan di Indonesia. Di era digital, pendidikan dituntut tidak sekadar menjadi rutinitas sekolah, melainkan proses pengembangan karakter dan inovasi yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Dr. Nuryadi, S.Pd., M.Pd., menilai bahwa pendidikan modern harus mengombinasikan nilai-nilai 4C yaitu critical thinking, communication, collaboration, dan creativity.

“Kemampuan dasar daya pikir dan perasaan ini akan melahirkan generasi berkualitas menuju Indonesia Emas 2045. Pendidikan tidak semata-mata belajar di sekolah saja,” ujar Nuryadi.

Menurutnya, untuk mewujudkan pendidikan yang merata dan bermutu, peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) adalah harga mati, baik bagi pelajar, pembelajar maupun pendidik. Di level perguruan tinggi, hal ini bisa dipacu melalui program kreativitas mahasiswa dan pengembangan technopreneur.

Nuryadi juga menekankan pentingnya riset sebagai fondasi inovasi.

“Penelitian berfungsi sebagai mitigasi sekaligus terobosan atas kebutuhan perubahan zaman,” tambahnya.

Senada dengan hal tersebut, bagi Tenaga Kependidikan Fakultas Ekonomi UMBY, Ahmad Farid Firsalam, MM., berpendapat bahwa pendidikan saat ini telah bergeser dari sekadar hafalan materi. Pendidikan sekarang lebih dipahami sebagai proses menyeluruh untuk membentuk manusia yang siap menghadapi dunia yang terus berubah.

“Saya harap pendidikan di Indonesia ke depan tidak sekadar ‘lebih baik’, tapi benar-benar relevan, merata, dan berdampak nyata bagi kehidupan masyarakat,” harap Ahmad Farid.

Dari sisi mahasiswa, Edi Caswanto dari prodi Bimbingan dan Konseling memaknai pendidikan sebagai ruang untuk mengenali potensi diri dan karakter. Ia berharap sistem pendidikan di Indonesia tidak lagi terjebak pada standarisasi nilai semata.

“Semoga pendidikan kita lebih fokus pada pengembangan karakter dan keterampilan hidup agar setiap orang mendapatkan hak yang sama untuk berkembang,” pungkas Edi.