Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) menyalurkan bantuan biaya pendidikan kepada 47 mahasiswa yang terverifikasi sebagai korban bencana alam di wilayah Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Setiap mahasiswa menerima bantuan senilai Rp 5 juta sebagai wujud kepedulian institusi terhadap kelangsungan studi mereka.
Rektor UMBY, Dr. Agus Slamet, S.TP., MP., menyampaikan hal tersebut secara daring di hadapan para mahasiswa penerima bantuan, Rabu (21/01/2026). Ia menegaskan, langkah ini diambil agar mahasiswa tidak terbebani masalah keuangan akibat musibah yang menimpa daerah asal mereka.
"Bantuan ini adalah bentuk komitmen dan empati Yayasan Wangsamanggala serta universitas. Harapannya, mahasiswa tetap semangat melanjutkan pendidikan dan bisa lulus tepat waktu, karena ada harapan orang tua dan cita-cita yang harus diwujudkan," ujar Dr. Agus.
Menurut Rektor, kebijakan ini merupakan implementasi nyata dari core value UMBY yakni KERIS (Komitmen, Empati, Respek, Integritas, dan Servis). Pihak kampus ingin memastikan hak pendidikan mahasiswa tetap terpenuhi di tengah situasi sulit sesuai amanat Pembukaan UUD 1945 mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kemudian Wakil Rektor Bidang Sumberdaya, Tutut Dewi Astuti, M.Si., menjelaskan teknis penyaluran dana tersebut. Bantuan akan langsung diintegrasikan oleh bagian keuangan ke dalam sistem pembayaran mahasiswa.
"Sistem akan memprioritaskan bantuan untuk penyelesaian tanggungan pembayaran kuliah. Namun, apabila biaya pendidikan mahasiswa tersebut sudah lunas, maka bantuan ini tetap menjadi hak mereka dan dapat dicairkan secara tunai," jelas Tutut.
Sementara itu, Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni UMBY, Ir. Reo Sambodo, SP., MA., menambahkan bahwa bantuan ini diberikan berdasarkan data yang valid. Pihaknya selama bulan Desember 2025 melakukan verifikasi data terhadap mahasiswa terdampak untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
"Kami berperan aktif memastikan pendataan berjalan objektif. Ini adalah wujud nyata kepedulian universitas terhadap kondisi sosial mahasiswa dalam situasi darurat bencana," pungkas Reo.