Gagas Wisata Terpadu Lembah Si Cangkring, UMBY Dampingi Peresmian Jalur Tracking dan Lokakarya Wisata Berkelanjutan
31 Jul 2026
189
by Fitriana Fitriana

Pasar Jadoel Lembah Si Cangkring yang berlokasi di Jalan Bligo, Dusun Jambeyan, Kalurahan Banyurejo, Kapanewon Tempel, Sleman, resmi melangkah menjadi destinasi wisata terpadu. Tak hanya menyuguhkan jajanan tradisional tempo dulu, kawasan ini kini melengkapi daya pikatnya dengan jalur olahraga alam bersejarah serta penguatan kapasitas layanan pedagang berbasis digital.

Inovasi ganda tersebut diresmikan pada Minggu (26/7/2026) melalui kolaborasi strategis antara Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Paguyuban Pedagang Pasar Lembah Si Cangkring, serta Karang Taruna Muda Mendunia Dusun Jambeyan.

Sebagai bentuk inovasi destinasi wisata sehat berbasis alam, pengelola resmi membuka jalur olahraga fun walk tracking sepanjang kurang lebih 6 kilometer. Rute ini dirancang aman dan ramah untuk seluruh anggota keluarga, mulai dari anak-anak hingga lansia.

Selama menyusuri rute, pengunjung disuguhkan hamparan persawahan yang asri, udara sejuk bebas polusi, serta lanskap pedesaan yang menenangkan. Uniknya, rute ini juga kaya akan edukasi sejarah karena melintasi dua cagar budaya ikonik yakni Buk Renteng, saluran irigasi bersejarah dengan arsitektur zaman Belanda dan adanya Jembatan Gantung, peninggalan infrastruktur dari era kolonial Belanda juga.

Untuk menikmati pengalaman ini, pengelola menawarkan paket Walk Tracking seharga Rp100.000 per orang. Fasilitas yang didapatkan meliputi air mineral, kelapa muda segar, pemandu rute (guide), dokumentasi foto profesional, serta kupon sarapan bebas pilih di Pasar Jadoel. Pemesanan dapat dilakukan melalui WhatsApp pengelola di nomor 08112647026 (Pak Eko).

Pada hari yang sama, Tim PkM UMBY juga menggelar Lokakarya Pengembangan Produk Wisata Kuliner Berbasis Memorable Tourism Experience (MTE) dan Integrated Marketing Communication (IMC). Kegiatan ini diikuti oleh 15 peserta yang terdiri dari pengurus paguyuban dan para pedagang.

Menghadirkan narasumber Yetti Lutiyan, M.Si. (dosen Manajemen UMBY sekaligus pengelola wisata Ledok Sambi Kaliurang), para pedagang dibekali pemahaman bahwa keunggulan destinasi terletak pada kenangan manis yang dibawa pulang oleh pengunjung.

"Dalam industri pariwisata, kenangan merupakan komoditas paling berharga. Ketika pengunjung membawa pulang pengalaman yang menyenangkan dan berkesan, mereka akan terdorong untuk kembali dan merekomendasikannya kepada orang lain," jelas Yetti.

Melalui lokakarya ini, pedagang sepakat menjaga empat pilar utama layanan: cita rasa masakan tradisional yang "ngangeni", harga terjangkau, standar kebersihan tinggi, serta keramahan pedagang. Selain itu, strategi promosi luring disinergikan secara digital (IMC) dengan memaksimalkan platform media sosial seperti Instagram (IG), TikTok, dan WhatsApp (WA).

Tim PkM FE UMBY yang digawangi oleh Rina Dwiarti, SE., M.Si. CTT., Eno Casmi, SE.., MBA., dan Dwi Puji Ratnawati SM., M.Sc. menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar acara satu hari, melainkan awal dari program pendampingan berkelanjutan hingga November 2026.

Ketua Tim PkM FE UMBY, Rina Dwiarti, menjelaskan bahwa peran akademisi difokuskan pada penyusunan strategi pemasaran dan penguatan konsep wisata terpadu.

"Kami berharap integrasi antara olahraga, edukasi sejarah, keindahan alam, dan wisata kuliner ini dapat menjadikan Lembah Si Cangkring sebagai destinasi terpadu yang berdampak langsung pada peningkatan ekonomi masyarakat sekitar secara berkelanjutan," tegas Rina.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Paguyuban Pedagang sekaligus Pengelola Pasar Jadoel Lembah Si Cangkring, Eko Putro Susilo, menyambut optimistis kolaborasi ini.

"Masyarakat mengenal pasar ini sebagai tempat kulineran yang murah dan berkualitas. Dengan hadirnya jalur tracking 6 kilometer serta pelatihan MTE ini, pengunjung tidak hanya puas dan bugar, tetapi pedagang kami juga semakin siap bersaing," kata Eko.

Pasar Jadoel Lembah Si Cangkring sendiri beroperasi setiap Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional mulai pukul 06.00 WIB. Berbagai hidangan tradisional seperti bubur krecek, nasi bebek, nasi megono, soto, gudeg, pecel, jadah tempe, hingga nasi wiwit selalu dipadati pengunjung, bahkan kerap ludes sebelum pukul 08.00 WIB.

Sinergi antara akademisi, karang taruna, dan warga lokal ini diharapkan makin mengukuhkan Pasar Jadoel Lembah Si Cangkring sebagai ikon wisata kuliner dan olahraga kebanggaan Kabupaten Sleman.