Program Pengabdian Masyarakat UMBY, Integrasi Budidaya Lebah Klanceng dan Tanaman Hias

Klanceng (Trogona sp.) merupakan kelompok lebah yang berukuran kecil, dan banyak ditemukan di berbagai kawasan di Indonesia khususnya di daerah pedesaan dan pinggiran hutan. Seperti pepatah Manggar sinangga janur lanang, jangan sepelekekan hewan kecil ini, karena hewan yang kecil ini mampu memproduksi madu secara produktif, dapat dipanen setiap tiga bulan sekali, dengan kandungan gizi yang sangat lengkap dan kaya manfaat. Kandungan gizi dan non gizi madu klanceng sangat tinggi antara lain gula, asam amino, berbagai macam vitamin, dan komponen fenolik yang sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan tubuh.   


Hal ini disampaikan oleh Gandung Sunardi, S.P dalam pelatihan integrasi budidaya lebah klanceng dengan tanaman hias di Kelompok Usaha Tanaman Hias “Lorejo” Puluhan Sumberarum Moyudan.  


Dr. Ch. Lilis Suryani, S.TP, M.P.  Ketua Pengabdian Masyakat UMBY menyampaikan bahwa, program pelatihan ini merupakan Program Pengabdian Masyarakat dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), yang ditujukan untuk meningkatkan ketrampilan dan pendapatan petani tanaman hias melalui integrasi antara tanaman hias dan klanceng dalam rangka merintis desa wisata. 


“Berkembangnya wisata Menoreh, di Wilayah Nanggulan Kulon Progo, yang melewati  wilayah  Jalur Yogyakarta - Wilayah Sumberarum perlu didukung oleh penyiapan wisata pendukung pada desa-desa disekitarnya termasuk  Desa Sumberarum, salah satunya dengan wisata budidaya klanceng dan tanaman hias ini. Diharapkan kelak wilayah Lorejo dapat menjadi sentra tanaman hias dan madu klanceng,” jelasnya


Ir. FX Suwarta, M.P sebagai anggota Tim PPM.  Menambahkan bahawa, peserta pelatihan terdiri dari  10 orang pembudidaya tanaman hias telah mengembangkan berbagai jenis bonsai dan tanaman hias baik tanaman out dor maupun indoor. Pada pelatihan tersebut juga diberikan materi pembuatan pot tananaman dari batu kali sungai progo, serta budidaya anggrek.


“Pemanfaatan bahan-bahan lokal seperti batu kali progo memberikan nilai tambah terhadap potensi yang ada, batu kali yang sekarang nilainya relatif rendah jika dijadikan pot dapat dijual dengan harga Rp 50.000 hingga 150.000,-.,” ujarnya


Untuk meningkatkan pendapatan pembudidaya tanaman hias, juga akan dilakukan pelatihan budidaya anggrek oleh Dra. Umul Aiman, M.Si. Tanaman anggrek dipilih karena mempunyai harga yang lebih stabil.


Disela sela-sela pelatihan, Ketua Kelompok Agus Riwuk menyatakan, bahwa saat ini telah terjadi pergeseran cara bertani akibat  turunnya minat generasi muda untuk terjun  ke sawah,   banyak pemuda di Lorejo yang mulai mengembangkan  tanaman hias, yang lebih hemat lahan, lebih bersih, dan nilai jualnya lebih baik. Pelatihan ini telah memberikan ketrampilan dan wawasan baru untuk melakukan diversifikasi usaha, sehingga akan dapat meningkatkan pendapatan.

PENERIMAAN MABA

Info PMB