HIMASTER UMBY Selenggarakan Seminar Hari Susu Nusantara

Himpunan Mahasiswa Peternakan (HIMASTER) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) mengisi peringatan Hari Susu Nusantara dengan kegiatan yang produktif dan konstruktif. HIMASTER UMBY telah mengadakan Seminar Online mengenai Manfaat Susu dan Peluang Berwirausaha Susu di zaman sekarang. Acara dilaksanakan mulai pukul 09.00 WIB hingga 12.00 WIB. Rabu (2/06/2021).


Acara diisi oleh dua narasumber yang berkompeten, yaitu ibu drh. Anastasia Mamilisti Susiati MP (Dosen Program Studi Peternakan UMBY) dan Mas Andromeda Sindoro Soekarno pengusaha susu yang terbilang cukup sukses dengan rintisan usahanya yaitu @sweetsundaeid.


Seminar online yang diadakan oleh HIMASTER UMBY ini secara urut menguraikan pascapanen susu, dimulai dari kajian fisika - kimia susu, mikrobiologi susu yang dibawakan oleh dosen program studi Peternakan UMBY  ibu drh. Anastasia Mamilisti Susiati MP dan rantai bisnis susu, pemerahan dan panen susu, penanganan dan transportasi susu, kemasan, pengolahan, sampai kepada sistem pembayaran susunya yang dibawakan oleh alumni berprestasi Fakultas Peternakan UGM, mas Andromeda Sindoro Soekarno S.Pt.


Seminar ini diikuti oleh internal di lingkungan UMBY yaitu mahasiswa dan dosen, maupun dari luar civitas UMBY. Para peserta sangat antusias dan mendapatkan edukasi yang sangat bermanfaat dari acara yang telah dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Peternakan (HIMASTER) UMBY.


Produksi Susu di Indonesia mengalami permasalahan, yakni hasil rilis sementara sensus populasi sapi perah sebagai penghasil utama susu di Indonesia di Pulau Jawa, dengan Jawa Timur yang terbanyak, disusul Jawa Barat, dan terakhir Jateng - DIY mengalami penurunan populasi secara tajam. Pada 2012, produksi susu segar nasional masih stagnan pada 1,6 juta liter per hari dan hanya mampu mencukupi 18% kebutuhan nasional dengan Jawa Tengah -DIY 160 ton/hari, Jawa Barat 450 ton/hari, dan Jawa Timur 650 ton/hari. Asumsi produksi susu 9 liter/sapi dan populasi yang ada menunjukkan bahwa sapi perah dewasa betina mencapai 64,51% dari total populasi sapi perah betina maka di Jawa Tengah ada 32% dewasa laktasi, DIY 30%, Jawa Barat 70%, dan Jawa Timur 50%. Kondisi ini menunjukkan kurang atau bahkan tidak ideal. Akibatnya, impor susu Indonesia semakin membengkak mencapai 82% kebutuhan susu dalam negeri, sekitar 2,3 juta ton/hari. Jika pasokan susu sebagai pangan prima masih sangat tergantung pada pasokan susu luar negeri sehingga Indonesia masih belum berdaulat secara pangan prima dan dapat dianggap masuk dalam jebakan pangan yang membahayakan sumber daya manusia, SDM bangsa di masa depan.


Peraturan Presiden RI. No. 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri Nasional antara lain menerangkan bahwa pengolahan susu termasuk prioritas untuk dikembangkan dan berdasarkan Peraturan Menteri Perindustrian Republik Indonesia No. 122/M-IND/PER10/2009 telah ditetapkan “Peta Panduan (Road Map) Pengembangan Klaster Pengelolaan Susu”. Dalam konsep kluster, dikenal istilah champion yang menjadi lokomotif/penghela pengembangan ekonomi wilayah berbasis susu. Pascapanen susu yang tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan kehilangan panen dan ketidakpastian kualitas susu sebagai bahan baku industri pengolahan susu dalam negeri dan memaksa impor yang banyak menyedot devisa bangsa.


Ayo rutin minum susu segelas sehari, salam sehat dari kami HIMASTER Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY).


(Johanes Baptista Adhi Samudro)