UMBY dan UPSI Kembangkan Kapasitas Masyarakat dalam Jaga Kesehatan Mental di Era Pandemi

Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) Indonesia dan Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia mengadakan webinar internasional dengan tajuk Empowering Volunteerism In Community Through Basic Helping Skills In Malaysia-Indonesia, pada 22 Mei dan 29 Mei 2021. Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 200 peserta yang terdiri dari mahasiswa Malaysia dan Indonesia yang berperan sebagai konselor sebaya dan yang memiliki ketertarikan di bidang kesehatan mental.


Pengabdian masyarakat ini melibatkan para ahli, praktisi, dan akademisi dari Indonesia dan Malaysia antara lain peneliti kesehatan mental berbasis masyarakat, pekerja di sektor kesehatan mental, tokoh LSM, dan akademisi. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai kesehatan mental, prinsip penting sebagai relawan sosial, serta aspek budaya dalam melakukan pengabdian kepada masyarakat.


Dalam webinar pertama, tim panelis Malaysia Dr. Hapsah Binti Md Yusof menekankan mengenai pentingnya membangun kepercayaan saat terjun ke masyarakat sehingga masyarakat merasa terbantu dengan kehadiran relawan. Sementara Dr. Nurul Hasyimah Binti Mat Rani menyampaikan bahwa relawan dituntut untuk bersikap ramah dan senantiasa menjaga kerahasiaan saat bertindak sebagai konselor.


Selain tim panelis Malaysia, turut hadir tim panelis Indonesia yang terdiri dari Dian Sartika Sari, M.Psi, Psikolog dan Annas Fitria Saadah, M.Phill yang merupakan akademisi UMBY, Maryama Nihayah, M.A yang merupakan peneliti Kesehatan mental dan Aspi Kristiati, S.Km., M.A yang bertugas sebagai petugas kesehatan mental di Rumah Sakit Ghrasia Yogyakarta. Tim panelis Indonesia di webinar pertama ini membahas mengenai aktivitas kesehatan mental berbasis masyarakat di Indonesia yang dioptimalkan melalui pelaksanaan kader kesehatan jiwa khususnya di Yogyakarta.


Webinar kedua menghadirkan beberapa praktisi dan pegiat Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dari Malaysia yakni Dr. Che Anuar Che Abdullah dan Tuan Hj. Zairulshahfuddin Zainal Abidan dari Islamic Relief Malaysia serta Dr. Fauziah Hanim Jalal dari Pertumbuhan Ikram Malaysia. Dr. Che Anuar Che Abdullah mengingatkan akan pentingnya komunikasi dua arah antara pembuat program dan pemaku kepentingan yang terlibat. Menurut Dr. Che, metode Participatory Rural Appraisal (PRA) sangat berguna dalam menganalisis permasalahan dan meningkatkan  pengetahuan masyarakat.


Selain pegiat LSM, webinar kedua juga menghadirkan akademisi dari UMBY Dr. Wahyu Kuncoro, M.Si dan akademisi dari UPSI yaitu Prof. Dr. Nurul Ain Binti Mohd Daud. Pada sesi ini Prof. Dr. Nurul Ain Binti Mohd Daud menjelaskan kembali mengenai pentingnya sensitivitas dan pemahaman komunitas yang hendak dibantu. Sementara Dr. Wahyu Kuncoro, M. Si menekankan tentang aspek budaya yang memengaruhi keefektifan pemberdayaan masyarakat di suatu wilayah. Dr. Wahyu mencontohkan budaya “kulo nuwun” di masyarakat Jawa yang jika tidak dilakukan dapat membuat niat baik relawan sosial tidak akan diterima oleh masyarakat. Dr. Wahyu menambahkan bahwa aspek bahasa dapat membuat masyarakat merasa akrab dengan relawan.


Kegiatan webinar internasional ini secara resmi ditutup oleh Dekan Fakultas Psikologi UMBY, Reny Yuniasanti, M.Psi, Psikolog. Dalam pernyataannya, beliau mengungkapkan bahwa kegiatan joint community service antara UMBY dan UPSI ini diharapkan dapat menjadi media untuk saling bekerja sama antara Indonesia dan Malaysia dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan sosial yang dihadapi. Dekan juga menyatakan harapannya agar para peserta kegiatan menjadi lebih sensitif dengan permasalahan yang muncul dan tidak hanya menjadi follower namun dapat menjadi leader dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.