MODEL KOMPRESENSIF PENDIDIKAN KARAKTER Solusi atasi Terkikisnya Karakter Bangsa

Globalisasi, konsumerisme, hedonisme, budaya instan, sekuralisme dan kapitalisme mengikis jati diri dan karakter bangsa Indonesia. Bukan tidak mungkin kedepan sulit membedakan ciri khas bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa lain di kawasan asia tenggara maupun di belahan lain dunia ini. Dr. Rahma Widyana, MSi., Psikolog mengatakan data-data hasil penelitian yang diungkapkan para ahli fenomena sosial yang muncul pada dekade 2010 cukup mengkhawatirkan antara lain terkikisnya nasionalisme, merosotnya harkat dan martabat bangsa, memburuknya mentalitas bangsa dan krisis multidimensional.  Lebih lanjut Direktur Program Pascasarjana Fakultas Psikologi UMB Yogyakarta solusi mengatasi krisis karakter bangsa adalah dengan MODEL KOMPREHENSIF PENDIDIKAN KARAKTER yang disampaikan pada orasi ilmiah di hadapan Rapat Terbuka Universitas Mercu Buana Yogyakarta dalam rangka Dies Natalis ke-25, wisuda sarjana ke-31 dan wisuda pascasarjana ke-6 baru-baru ini di Auditorium Rektorat Kampus 1 Jl. Wates Km 10 Yogyakarta.

Mengapa pendidikan karakter penting?  Selain menjadi bagian proses pembentukan akhlak anak  bangsa, pendidikan karakter diharapkan mampu menjadi dasar utama dalam menyukseskan Indonesia Emas 2025. Kemendiknas RI (Kemendikbud) menetapkan pendidikan karakter  menjadi fokus pendidikan pada setiap jenjang pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Istilah nation and character building merupakan istilah klasik sepanjang sejarah modern Indonesia dan mencuat kembali pada tahun 2010 ketika dijadikan gerakan nasional pada puncak acara Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2010 dengn tema “Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa”.

Bangsa yang berkarakter adalah bangsa berakhlak dan berbudi pekerti, sebaliknya bangsa yang tidak berkarakter adalah bangsa yang tidak atau kurang berakhlak atau tidak memiliki standar norma dan perilaku yang baik. Permasalahan bangsa ini semakin diperparah dengan tayangan televisi yang sangat vulgar, tidak mengenal waktu dan selalu diulang-ulang pada hampir semua stasiun TV. Peristiwa dan berbagai bentuk tindakan kejahatan justru menjadi menu utama dan disiarkan dalam berbagai bentuk tanyangan (berita, dialog interaktif, sinetron, infotainment dll). Fenomena sosial tersebut tentu menimbulkan keprihatinan yang mendalam terhadap kualitas generasi muda di masa mendatang, dan terhadap citra dan daya saing bangsa. Berbagai permasalahan diasumsikan bersumber dari krisis etika dan moral antara lain korupsi dianggap prestasi, penipuan dianggap lumrah asalkan tidak keterlaluan, hilangnya budaya malu, hilangnya keperawanan tidak lagi disesalkan, politik uang untuk membeli kekuasaan, berbudi bahasa santun dianggap kelemahan, agama tidakm lagi dijadikan pedoman akhlak melainkan alat kepentingan.

Kondisi sekarang sangat berbeda dengan kondisi masa lalu. Pendekatan pendidikan karakter bersifat indoktrinatif yang dahulu cukup efektif, sudah tidak sesuai lagi dengan kondisi generasi sekarang dan yang akan datang. Pemberian teladan sekarang sudah kurang efektif, karena sulitnya yang paling tepat untuk dijadikan teladan. Diperlukan multipendekatan atau oleh Kirchenbaum (1995) disebut pendekatan komprehensif.

Pendidikan karakter komprehensif tidak hanya efektif untuk meningkatkan pengembangan karakter baik, tetapi juga merupakan pendekatan untuk mencegah berbagai masalah kontemporer, antara lain perilaku agresif dan antisosial, penggunaan obat terlarang, perilaku sexual pranikah, tindakan criminal, prestasi belajar rendah dan kegagalan sekolah. Agar dapat mengurangi resiko keterlibatan generasi muda dalam perilaku negative, pendidikan karakter memiliki peran tambahan penting untuk membantu pengembangan sikap personal dan sosial positif dan ketrampilan yang membantu mereke menuju kehidupan yang memuaskan dan produktif, dan menjadi anggota masyarakat yang aktif dan efektif.

Pendidikan karakter yang dilakukan lebih dini dan lebih baik akan dapat mengarahkan jalan generasi menuju kehidupan yang lebih baik, dan hal tersebut merupakan pendekatan untuk pencegahan utama. Program pendidikan karakter yang baik membangun system penguatan pengaruh positip yang membantu generasi muda untuk lebih efektif dalam kehidupannya dan menghindarkan dari keterlibatan dalam perilaku negatif. (By Nasir_Humas)