Dosen Bimbingan dan Konseling (BK) UMBY berperan aktif mengkampanyekan stop klitih

Dibalik Trending Topic #JogjaDaruratKlitih di Media Sosial, Dosen Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) berperan aktif mengkampanyekan stop klitih, dalam seminar dengan tema Ada Apa Dengan Pelajar (AADP) di Auditorium SMK N 1 Cangkringan. Peserta seminar yaitu Siswa Siswi SMK N 1 Cangkringan, Senin, (10/2/2020)


Acara ini dilaksanakan sebagai bentuk layanan yang bersifat preventif untuk mengantisipasi penyimpangan perilaku atau kejahatan jalanan (klitih) yang akhir-akhir ini meresahkan masyarakat dan dunia pendidikan karena sebagian besar pelaku adalah kalangan pelajar. Upaya preventif yang masif dengan melibatkan stakeholder serta para ahli perlu dilakukan untuk melawan kejahatan jalanan (klitih)


Hadir Sebagai pembicara Luky Kurniawan, M.Pd, dosen  Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Bapak Suharno (TNI AD), dan Bapak Teguh (Kepolisian). Tema ini dikaji dari tiga perspektif keilmuan yaitu pendidikan, psikologi dan Hukum


Dosen Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), Luky Kurniawan, M.Pd menyampaikan bahwa “Menginternalisasi, dan mengembangkan karakter menjadi sebuah kebutuhan bagi generasi muda saat ini. Menuntut ilmu penting, tapi karakter yang utama. Karakter dapat menjadi fondasi bagi generasi muda, jika karakter sudah tertanamkan dalam diri individu maka peserta didik tidak mudah terpengaruh dengan ajakan teman sebaya untuk berbuat perilaku menyimpang/kejahatan jalanan (klitih)” jelasnya.


Remaja cenderung untuk melakukan konformitas pada kelompoknya, jika budaya dalam kelompok itu negatif maka perilaku seluruh anggotanya akan negatif, berlaku juga sebaliknya. Memilih teman dan komunitas (bukan berarti pilih-pilih teman) yang tepat, menjadi sebuah pilihan yang harus dilakukan oleh peserta didik. Kadang kala ini menjadi sebuah dilema tersendiri bagi generasi muda. Tidak jarang klitih dilakukan karena atas dasar ikut-ikutan teman dan tidak mampu menolak ajakan teman untuk berbuat yang melanggar hukum.


Luky Kurniawan menuturkan bahwa generasi saat ini (Generazi Z) adalah generasi yang tidak dapat dipisahkan dengan teknologi (smartphone, note book, dan lain sebagainya). Peserta didik perlu mengembangkan literasi digital sebagai filter banjirnya informasi yg membawa dampak positif dan negatif. “Sering kali motif klitih terjadi karena krisis tauladan (role model) dan proses imitasi dari tontonan negatif yang dilihat di smartphone, tanpa difilter terlebih dahulu, tanpa memikirkan dampak bagi diri sendiri, keluarga, sekolah serta orang lain” jelasnya.


Sementara itu, Teguh Santosa dari Kepolisian dan Suharno dari TNI mensosialisasikan program Satu Sekolah Dua Polisi (SSDP) serta jeratan hukum bagi pelaku klitih. “SSDP merupakan program yg sudah dijalankan sejak 5 tahun yang lalu, dengan tujuan untuk mendorong peserta didik turut serta berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang aman dan tertib di sekolah,”pungkasnya.

0 Komentar :

  • Belum Ada Komentar

Isi Komentar :