Pembelajaran daring selama COVID-19

oleh : Alfianita Pramudyani (Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris semester 7 UMBY)


Pandemi COVID-19 sudah melanda seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri sudah sekitar enam bulan lebih terkena dampak dari adanya COVID-19. Semua aspek kehidupan lumpuh. Tak terkecuali aspek pendidikannya, pembelajaran yang seharusnya berjalan sesuai jadwal harus berubah total. Parahnya, Ujian Nasional ditiadakan karena COVID-19 ini. Perubahan ini terjadi dari sekolah tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Mau tidak mau, pemerintah – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus memberlakukan pembelajaran secara daring. Pembelajaran secara daring atau pembelajaran jarak jauh memanfaatkan perangkat komputer atau gawai yang dimiliki oleh guru dan siswa untuk saling berinteraksi. Hal ini dilakukan untuk menekan persebaran COVID-19 di kalangan siswa sekolah dan mahasiswa, mengingat kasus COVID-29 yang terjadi di Indonesia tiap hari bertambah banyak.


Praktik pembelajaran daring dan juga jarak jauh ini dilakukan mulai dari tingkat TK, SD, SMP/Sederajat, SMA/SMK Sederajat hingga perguruan tinggi di seluruh wilayah Indonesia. Sekarang sudah tidak lagi ditemukan pembelajaran tatap muka yang menjadi pemandangan umum seperti biasanya. Pembelajaran daring adalah salah satu solusi yang tepat bagi para tenaga pendidik untuk tetap melangsungkan kegiatan belajar mengajar namun tidak diiringi dengan persiapan yang matang baik dari tenaga pendidik dan para siswanya sendiri.


Pemandangan ini juga terjadi di salah satu sekolah – SMA yang terletak di kota yang terkenal dengan gebleg-nya. Pembelajaran daring di sekolah ini sudah berlangsung sejak turunnya surat edaran yang menganjurkan untuk melangsungkan pembelajaran daring demi menekan persebaran COVID-19. Kegiatan ini masih berlangsung hingga saat ini. Banyak sekali yang harus dihadapi baik dari pihak sekolah, guru, siswa hingga para orang tua yang mendampingi siswa saat belajar di rumah. Seperti yang kita tahu bahwa pembelajaran daring sangat bergantung pada koneksi internet.


Perubahan dari pembelajaran konvensional ke pembelajarn daring juga membawa kendala dan banyak keluhan. Dari siswa sendiri, mereka mengeluhkan sinyal dan juga kuota. Namun tak hanya itu, mereka juga kerap mengeluh dengan banyaknya tugas yang diberikan oleh guru, rasa bosan dan jenuh berada di rumah setiap harinya berhadapan dengan hal yang sama setiap harinya; tidak bisa keluar rumah, dimarahi orang tua, mengerjakan tugas, dan lainnya. Ditambah mirisnya beberapa siswa yang masih belum paham apa itu Zoom, Google Meet. Hal tersebut terlihat ketika salah satu mahasiswa yang sedang melangsungkan praktik mengajar mengajak siswanya untuk melakukan virtual meeting. Hingga keluhan-keluhan lainnya.


Sedangkan dari sisi guru, mereka dituntut untuk selalu up-to-date dan inovatif. Mereka mengeluhkan tentang bagaimana cara penyampaian materi secara daring. Banyak dari mereka yang masih kesulitan dengan teknologi yang ada. Para guru masih kebingungan bagaimana menggunakan dan mengoperasikan Google Classroom, Zoom, Google Meet, dan situs pembelajaran lainnya. Tapi hal tersebut tak menjadi halangan bagi mereka untuk tetap memberikan materi serta tugas harian sebagai penunjang pembelajaran daring selama COVID-19. Beberapa guru hanya bermodalkan mem-foto materi kemudian mengunggahnya di group chat siswa, kemudian ada beberapa yang mengetik materi melalui aplikasi Word atau dengan slides PPT yang mereka buat sedemikian rupa agar mudah dipahami. Namun ada juga yang sudah dapat mengoperasikan Google Classroom dan situs pembelajaran daring lainnya. Meski sebenarnya pembelajaran daring diatur dalam Permendikbud No 22 Tahun 2016.


Semuanya harus beradaptasi dengan perubahan yang serba mendadak ini. Para guru yang tak ingin ketinggalan pun mereka dengan suka rela mengikuti pelatihan online atau webinar yang ada baik gratis hingga berbayar. Atau mereka juga tak segan untuk bertanya kepada mahasiswa yang kebetulan sedang magang atau melakukan praktek mengajar di sekolah tersebut.


Solusi yang diberikan untuk keluhan para siswa sendiri, pihak sekolah sudah membuat anggaran untuk subsidi kuota bagi setiap siswanya. Seperti apa yang sudah dipaparkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim bahwa “Seratus persen dana BOS diberikan fleksibilitas untuk membeli pulsa atau kuota internet untuk anak dan orangtuanya” Sehingga dapat dikatakan bahwa sekolah ini sudah mengikuti anjuran pemerintah.


Meski belum tahu akan sampai kapan pembelajaran secara daring ini berlangsung, yang perlu kita ingat adalah bagaimana agar kita bisa memutus rantai persebaran COVID-19 namun tetap memprioritaskan kemajuan pendidikan.