Webinar FE UMBY, Perencanaan Keuangan Memasuki Masa New normal

Sejak pertama kali kemunculan Covid-19 di Indonesia telah berdampak pada perekonomian Indonesia.  Kekacauan ekonomi akibat pandemic Covid-19 menyebaban perubahan besar terhadap perilaku konsumen dalam membelanjakan uangnya. Juni 2020 Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan Indonesia New Normal sebagai salah satu strategi pemerintah dalam menangani pandemic Covid-19 yang berfokus apda aspek kesehatan dan aspek ekonomi. Kebijakan Indonesia New Normal secara tidak langsung mendorong masyarakat untuk beradaptasi dengan kebiasaan - kebiasaan baru dengan selalu memperhatikan protokol kesehatan dalam aktivitas sehari-hari. Namun tidak hanya gaya hidup sehat saja yang perlu diperhatikan, gaya hidup secara finansial juga harus diperhatikan. Fase Indonesia new normal  perlu diikuti dengan merubah strategi dalam mengatur keuangan pribadi menyesuaikan kebutuhan agar dapat dipenuhi selama menajalani tatanan hidup new normal.


Progam studi Manajemen Fakultas Ekonomi Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) telah menyelenggarakan seminar online beberapa hari lalu, untuk mengedukasi para mahasiswanya dalam merencanakan keuangannya memasuki Indonesia New Normal. Seminar yang diadakan atas kerjasama antara prodi manajemen UMBY dengan Himpunan Mahasiswa Manajemen (Himaj) UMBY dengan nara sumber Dosen Prodi Manajemen UMBY Eno Casmi., MBA., AWP., QWP telah diikuti mahasiswa UMBY dan masyarakat umum. Seminar bertema “Smart Money Management Skills for Millennial: How to manage your money in new normal” diadakan sebagai respon dan kepedulian kampus dalam menghadapi new normal untuk mahasiswa dan masyarakat umum sadar dan paham merencanakan keuangannya.


Dalam pemaparannya Eno Casmi., MBA., AWP., QWP menyampaikan pentingnya merencanakan keuangan pribadi untuk menghadapi berbagai risiko kehidupan. Eno menjelaskan bahwa selama kita hidup tidak dapat menghilangkan risiko namun hanya bisa memperkecil risiko. Adapun risiko yang dihadapi terbagi menjadi 3 yakni risiko bencana alam (catastrophe), risiko finansial (financial risk), dan risiko hidup (human risk). Untuk bisa memperkecil risiko tersebut mahasiswa dan masyarakat umum perlu untuk membuat rencana keuangan sedini mungkin. Fase mahasiswa merupakan fase yang tepat untuk membiasakan membuat rencana keuangan agar dapat berpikir cerdas memanfaatkan sumber daya yang mereka dapatkan. Harapannya melalui perencanaan keuangan (financial planning) mahasiswa dan masyarakat umum dapat memiliki kebiasaan yang tertatur dalam membelanjakan uangnya secara bijak sesuai kebutuhan.


“Indonesia new normal merupakan momentum yang tepat untuk merencanakan kembali keuangan agar kedepannya dapat hidup tenang walaupun risiko kehidupan akan selalu ada. Tahap awal perencanaan new normal adalah dengan melakukan financial check-up untuk melihat kondisi keuangan apakah dalam kondisi surplus, ekulibrium atau defisit. Kondisi keuangan teresebut akan berpengaruh dalam membuat strategi perencanaan keuangan pribadi masing-masing orang. Setelah mengetahui kondisi keuangan, kemudian buatlah post pencatatan keungan dengan proporsi utang maksimal 30%, pengeluaran untuk kebutuhan sehari-hari maksimal 60%, sharing (sedekah) 2,5%, menabung dan investasi minimal 10% dan lifestyle maksimal 20%. Setelah membuat post dan membagi proporsi keuangannya perlu juga untuk memiliki dana darurat sebagai strategi untuk menghadapi risiko yang tidak diinginkan, adapun proporsi dana darurat untuk single (mahasiswa) adalah 3 – 6 kali dari pengeluaran yang mana dana darurat tersebut dapat digunakan ketika menghadapi kondisi darurat seperti saat pandemik Covid-19 ini. Dana darurat tersebut bisa mahasiswa simpan di instrument investasi yang likuid seperti reksadana dan emas, dengan harapan dana darurat yang disimpan dapat dicairkan kapanpun dibutuhkan. Setalah memiliki dana darurat, Eno Casmi., MBA., AWP., QWP juga menyarankan untuk berinvestasi sedini mungkin, cukup minimal 10% dari pengeluaran mahasiswa dapat menyisihkan uangnya untuk investasi mengingat beberapa instrumen investasi saat ini tidak perlu uang yang besar. Mahasiswa dapat memulai investasi dengan modal 100 ribu untuk membuka rekening reksadana dan saham ataupun rekening tabungan emas. Untuk mengingatkan post pencatatan keuangan mahasiswa dapat menggunakan teknologi pencatatan keuangan melalui aplikasi di Handphone masing-masing. “Terkadang banyak orang yang lupa dengan rencana keuangannya ketika melihat diskon dan sale, maka dari itu dianjurkan untuk mencatat setiap transaksi melalui aplikasi pencatatan keuangan.” Tutur Eno.


Mahasiswa merupakan fase dimana produktifitasnya tinggi. Untuk menambah income (selain dari orang tua) mahasiswa juga dapat mencari income tambahan (side hustle) dengan memanfaatkan bisnis yang selama pandemic Covid-19 ini muncul sebagai pemenang. Bisnis yang penjualannya meningkat tajam seperti bisnis online memanfaatkan  e-commerce dan social media, jasa antar, aplikasi hiburan seperti Netflix dan Spotify, menjual produk kesehatan, cloud meeting software, dan jasa edukasi online. Bisnis – bisnis tersebut dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk mendapatkan income tambahan (memanfaatkan waktu senggang kuliah) karena kedepannya pun diprediksi akan tetap meningkat seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat.


Di penghujung seminar tidak lupa Eno Casmi., MBA., AWP., QWP juga menyampaikan bahwa penting bagi generasi muda saat ini untuk sadar dan paham literasi keuangan tidak hanya untuk membiasakan bijak dalam mengatur keuangan namun juga untuk mempersiapkan masa depan yang lebih baik apapun kondisinya.