Webinar Nasional: Strategi Pemberdayaan Masyarakat di Era Pandemi Covid-19

Pemberdayaan masyarakat adalah upaya menumbuhkan kekuatan pada masyarakat, dari yang awalnya tidak berdaya, tidak tahu, tidak merasakan ada permasalahan menjadi memiliki pengetahuan, pemahaman dan kesadaran bahwa ada hal yang harus diubah di komunitasnya. Aktivitas yang biasa dilakukan dalam pemberdayaan masyarakat adalah edukasi, pendampingan, pelatihan keterampilan, pengorganisasian dan advokasi. Namun saat ini, ketika masyarakat mengalami pandemi Covid-19, dan pemerintah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tentu hal ini mempengaruhi implementasi program-program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh organisasi masyarakat sipil.


Pada tanggal (04/07/2020), Pusat Studi Keluarga dan Komunitas beserta Go Giver, Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) mengadakan acara Webinar Nasional Strategi Pemberdayaan Masyarakat di Era Pandemi Covid-19. Kuliah umum ini diisi pemaparan oleh para praktisi yang bergerak dalam isu akses pendidikan, gender dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan, kesehatan mental masyarakat, kebudayaan dan kesejahteraan ekonomi komunitas.


“Kami mengundang perwakilan dari Rifka Annisa Yogyakarta, Indonesia Mengajar, dan Pijar Psikologi untuk berbagi informasi mengenai apa yang mereka lakukan untuk masyarakat di tengah situasi pandemi. Kami juga mengundang Dicky Senda, salah satu alumni dari Fakultas Psikologi UMBY yang merupakan penggerak masyarakat di daerahnya serta Dr. Moordiningsih, M.Psi., Psikolog selaku dosen dari fakultas Psikologi UMBY. Tujuan dari webinar nasional ini adalah selain memberikan informasi mengenai permasalahan psikososial yang saat ini terjadi di Indonesia saat ini, juga untuk menularkan inspirasi kepada para peserta yang didominasi mahasiswa agar berbuat sesuatu dalam memecahkan persoalan di komunitas,” tutur Nanda Yunika Wulandari, M.Psi., Psikolog selaku Koordinator Acara.


Acara ini menghadirkan lima narasumber, yaitu Defirentia One dari Rifka Annisa Yogyakarta yang memaparkan mengenai pendampingan perempuan korban kekerasan dan pengorganisasian masyarakat untuk turut serta dalam upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Juang Akbar Magenda dari Indonesia Mengajar yang bekerja dalam upaya pemerataan akses pendidikan  berkualitas di Indonesia dengan melibatkan tokoh-tokoh lokal. Regisda Machdy dari Pijar Psikologi yang berupaya memberikan layanan pendampingan psikologis online secara gratis dan  mengedukasi masyarakat Indonesia mengenai isu kesehatan mental. Dicky Senda pendiri Lakoat Kujawas,  komunitas berisi para pemuda Timor yang bertujuan memberdayakan masyarakat lokal di sekitar Mollo, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, dengan mengembangkan literasi dan wirausaha sosial berbasis adat. Dr. Moordiningsih, M.Psi.,Psikolog, dosen Fakultas Psikologi UMBY yang ahli dalam indigenous psychology, pengambilan keputusan, dan Psikologi Positif.


Berdasarkan presentasi dari para narasumber dapat kita ketahui beragam permasalahan psikososial yang terjadi di Indonesia. Defirentia One dari Rifka Annisa mengatakan bahwa jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani Rifka Annisa di Yogyakarta baik sebelum maupun selama pandemi tetap tinggi, bahkan konflik rumah tangga cenderung meningkat. Juang Akbar Magenda dari Indonesia Mengajar memaparkan bahwa selama pandemi para Pengajar Muda yang bertugas di pelosok tanah air tetap melakukan pendampingan kepada siswa dengan melakukan modifikasi kegiatan belajar mengajar dengan disesuaikan situasi kondisi daerah masing-masing. Para Pengajar Muda melakukan proses pembelajaran dari rumah ke rumah, berkolaborasi dengan guru dan orang tua hingga melakukan pemberdayaan masyarakat dengan agar siswa pada khususnya tetap mendapatkan hak menuntut ilmu di tengah Pandemi Covid-19. Salah satu contoh kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan adalah pembentukan “Kelompok Ujung Sialit Belajar” oleh Pengajar Muda angkatan XIX penempatan Aceh Singkil.


Regis Machdy yang merupakan co-founder dari Pijar Psikologi memaparkan bahwa selama Pandemi Covid-19, Pijar Psikologi tetap beraktivitas seperti biasa. Hal ini karena model layanan Pijar Psikologi memang sudah berbasis online sehingga tidak banyak melakukan perubahan. Bahkan Pijar Psikologi me-lanching buku baru seputar kesehatan mental untuk edukasi masyarakat. Dicky Senda, memaparkan bahwa selama pandemi, masyarakat di komunitas dampingannya justru mampu bertahan karena selama ini sudah mempersiapkan diri dengan aktivitas ekonomi berbasis online. Namun demikian harus diakui bahwa ternyata selama ini masyarakat Desa Taiftob, Kecamatan Mollo Utara, Nusa Tenggara Timur yang didampinginya sangat bergantung dengan beras, bahan pangan pokok yang sebenarnya bukan asli wilayah tersebut. Ketika mengalami masa pandemic dan distribusi beras terhambat, maka masyarakat tersadar bahwa mereka harus menggali bahan pangan lokal asli yang tumbuh di desa tersebut sebagai pengganti beras. Dr. Moordiningsih, M.Psi., Psikolog yang akrab disapa Bu Ning oleh para mahasiswa ini membicarakan mengenai strategi intervensi komunitas, terutama psikoedukasi masyarakat. Di era pandemic ini, psikoedukasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan media sosial untuk menampilan content yang mendidik masyarakat. Bu Ning mengatakan bahwa dalam membuat content psikoedukasi masyarakat maka penting menyusun kata dan kalimat yang mampu menggugah kesadaran orang yang membacanya.


Acara ini dihadiri 587 peserta melalui aplikasi zoom meeting. Bertindak selaku moderator acara sekaligus Ketua Pusat Studi Keluarga dan Komunitas Fakultas Psikologi UMBY, Aditya Putra Kurniawan, MSH.Counselling. Berdasarkan data presensi peserta yang masuk ke panitia, para peserta terdiri dari civitas akademika UMBY dan universitas lain baik PTN dan PTS yang tersebar di seluruh Indonesia, pihak eksternal dari berbagai instansi pemerintah seperti BKKBN, P2TP2A, BNN, Pemda, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, beberapa perwakilan dari Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan, bahkan SLB, serta masyarakat umum.