KKN PPM UMBY dan Dukungan terhadap Mereka yang “Terpilih”

Kuliah Kerja Nyata (KKN) merupakan salah satu cara yang dapat digunakan oleh perguruan tinggi untuk melatih para calon pemimpin bangsa terkait kepekaan sosial dan semangat pengabdian kepada masyarakat. Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) sendiri memiliki 3 jenis KKN dengan kriteria dan ketentuan khasnya masing-masing, yaitu KKN PPM Reguler, KKN Tematik dan KKN Mandiri. Periode lalu, KKN Tematik dilakukan di lokasi-lokasi khusus, seperti pasar yang tersebar di wilayah Sleman dan kota Yogyakarta. Pada periode ini KKN Tematik di UMBY memperluas cakupan kemitraan dengan bekerjasama dengan komunitas di kecamatan Sedayu untuk mengangkat isu disabilitas.


Paguyuban Keluarga Difabel Sedayu “Pinilih” merupakan salah satu mitra Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) yang kali ini menjadi  salah satu lokasi tujuan KKN PPM. “Pinilih” sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti terpilih. Paguyuban ini berdiri pada tanggal 27 Agustus 2017 dan diketuai oleh Tri Maria Suhartini. Paguyuban ini terbentuk sebagai “wadah” bagi keluarga “terpilih” yaitu keluarga difabel di lingkungan kecamatan Sedayu untuk memaksimalkan potensi yang dimiliki sehingga tujuan bahwa difabel dapat berkarya dan mandiri dapat terwujud.


Sejalan dengan semangat “Angudi Mulyaning Bangsa” maka diterjunkanlah 2 kelompok KKN PPM ke paguyuban tersebut. Selama satu bulan, kedua kelompok tersebut menjalankan program kerja yang telah disusun dan disepakati, yakni pada bidang ekonomi dan sosial. Program kerja utama yang dilakukan oleh kelompok 2 adalah pembaharuan data terkait jumlah penyandang disabilitas di kecamatan Sedayu. Sekilas memang tampak sederhana, namun demikian, program pembaharuan data menjadi titik awal dan vital guna membuat kebijakan yang tepat sasaran dan sesuai kebutuhan.


Mahasiswa dituntut untuk memiliki keterampilan beradaptasi dan kesediaan untuk belajar banyak dari lingkungan tempatnya mengabdi. Sebelum melakukan kegiatan, mahasiswa dijelaskan cara melakukan pendataan, hingga cara untuk berinteraksi dengan keluarga difabel.


 


“Mahasiswa yang notabene berasal dari pelosok tanah air dengan bahasa dan budaya khas masing-masing, datang ke lokasi dimana masyarakatnya dominan berbahasa Jawa, berinteraksi secara langsung dengan warga dan keluarga difabel tentu saja menjadi tantangan dan pengalaman seru bagi mereka. Mereka tidak hanya dituntut untuk mampu beradaptasi dengan cepat, namun juga berinteraksi secara aktif sehingga pendataan yang menjadi program utama dari kelompok 2 dapat terealisasi dengan baik,” ujar Nanda Yunika Wulandari., M,Psi., Psikolog selaku DPL kelompok tersebut.


Cakupan wilayah pendataan yang cukup luas, yaitu meliputi satu kecamatan yang terdiri dari 4 desa merupakan tantangan tersendiri yang dialami oleh mahasiswa kelompok 2.


Banyak pengalaman menarik dalam menjalankan program kerja tersebut. Keberhasilan tidak serta merta dilihat dari hasil akhir, namun proses dan pemaknaannya. Mereka tidak bergerak sendiri, banyak tangan yang tergerak dan turut terlibat untuk mensukseskan kegiatan tersebut. Respon positif dari pihak kecamatan dan kelurahan, keterlibatan relawan dari Pinilih, bahkan kesediaan beberapa kepala dukuh serta warga untuk terjun langsung ke lapangan tentu saja menjadi kesan dan pengalaman berharga bagi para mahasiswa KKN. Secara langsung mahasiswa dapat belajar dan mengaplikasikan konsep pemberdayaan masyarakat dengan terlibat secara aktif di berbagai lapisan masyarakat, khususnya wilayah Sedayu.


Pada kenyataanya, selain melakukan pendataan, mahasiswa sekaligus memberikan sosialisasi dan psikoedukasi terkait hal yang berhubungan dengan isu disabilitas.  Tak hanya memberi, para mahasiswa juga menerima pembelajaran terbaik dari masyarakat tempat mereka melakukan pengabdian. Selama satu bulan berinteraksi dengan keluarga Pinilih, banyak hal yang didapat oleh mahasiswa. Mereka tidak hanya sekedar menyelesaikan salah satu kewajiban perkuliahan dengan mengikuti program KKN, namun lebih dari itu.


“Sangat mengispirasi sekali. Bahkan ada yang dari teman difabel yang seluruh anggota badannya susah untuk digerakkan dan sangat kaku, tetapi dapat mengendarai motor hingga ke kota Jogja. Kami disini juga diajarkan belajar bahasa isyarat. Karena ada teman-teman difabel yang tuna rungu. Kami sangat senang bisa menjalankan KKN di desa pinilih,” ujar seorang mahasiswa KKN kelompok 2 mewakili teman-temannya.


Ketua paguyuban keluarga difabel pinilih menyampaikan bahwa “Ada perubahan yang signifikan. Selama berkegiatan, mahasiswa KKN telah belajar dan berinteraksi secara langsung dengan rekan-rekan penyandang disabilitas, sehingga dari yang semula ragu-ragu karena kebinggungan bagaimana harus bersikap terhadap rekan-rekan difabel, menjadi yakin dan luwes saat berinteraksi,” ucap bu Tri saat prosesi penarikan mahasiswa KKN pada tanggal 25 Februari 2020. Lebih lanjut bu Tri menyatakan bahwa keluarga difabel Pinilih mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran KKN tematik. Beliau mengungkapkan sangat terbantu dengan program-program mahasiswa KKN yang telah dijalankan.