KKN UMBY Selenggarakan Talkshow Rintisan Kelompok Usaha Bersama Disabilitas di Sedayu

Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) dan Keluarga Penyandang disabilitas Sedayu yang bernama Komunitas ”Pinilih” memfasilitasi para wirausaha penyandang disabilitas Sedayu untuk mengembangkan usahanya dengan mengadakan “Talkshow Rintisan Kelompok Usaha Bersama” bertempat di Aula Kecamatan Sedayu, pada Sabtu (15/02/2020)


Talkshow diikuti sekitar 100 orang, dengan dihadiri muspika kecamatan Sedayu, Perwakilan UMBY, lurah-lurah se-Kecamatan Sedayu, perwakilan instasi serta para penyandang disabilitas. Dengan menghadirkan narasumber yaitu Mbak Nuli Wilajeng, S.E sebagai Ketua Kelompok Usaha Trini Karya dan Bapak Waluyo Sitiadi sebagai pemilik usaha Madu Murni Hutan Raya.


Talkshow ini dibuka langsung oleh Camat Sedayu, Bapak Sarjiman, S.IP ME, yang dalam sambutannya memberikan apresiasi pada Tim KKN UMBY karena kepeduliannya terhadap sesama. ”anggota Pinilih walaupun memiliki keterbatasan tetapi bisa mendapatkan kesejahteraan hidup dengan terus berjuang meraih mimpi. Melalui Forum Pinilih, akan dijembatani meraih berdasarkan potensi dan kesempatan yang ada.” tuturnya.


Ketua komunitas Pinilih, Maria Tri Suhartini SE mengatakan  talkshow ini mengambil tema Merintis Kelompok Usaha Bersama Pinilih yang bertujuan untuk menjawab keluhan dan pertanyaan komunitas Pinilih. “Bagaimana cara menciptakan strategi pemasaran ditengah keterbatasan dan bagaimana mendongkrak bisnis rumahan penyandang disabilitas dihubungkan dengan dunia bisnis global era sekarang agar kesejahteraan penyandang disabilitas meningkat.” Jelasnya.


Pak Waluyo menuturkan bahwa saat ini sudah memiliki banyak reseller yang menjualkan madu murninya. Walapun demikian, beliau masih berkeliling dengan sepeda motor roda tiganya mengantarkan sendiri madu pada langganan-langganan tetapnya. Ketika ada pertemuan-pertemuan atau even-even, tidak lupa beliau mempromosikan barang dagangannya. “Tidak perlu malu berjualan. dulu saya mulai jualan madu dari  5 botol saja, sampai akhirnya bisa menjual berbotol-botol tiap harinya” tuturnya.


Sementara itu, Bu Nuli Wilajeng, S.E alumni Manajemen Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) sebagai  karyawan tetap di Rumah Sakit Swasta di Yogyakarta, mempunyai usaha  membuat paperbag atau tas kertas yang dibangun dari kecil, hingga sekarang beromset ratusan juta. Mbak Nuli mengajarkan ibu-ibu untuk melipat tas kertas dan bisa dikerjakan di rumah masing-masing. Selain mendorong ibu-ibu dari sesi ekonomi, Mbak Nuli juga memberikan edukasi kesehatan pada anggota ketika akan melipat kertas.


“Selain untuk kepuasan pelanggan dengan hasil produksi yang bagus, juga mendidik bahwa kesehatan badan dan jiwa bisa mendukung kesuksesan usaha  seseorang.” Terang Nuli.


Peserta talkshow sangat antusias untuk mengikuti acara, terlihat dari pertanyaan yang diajukan oleh peserta. Waljio, salah seorang anggota Pinilih yang memiliki usaha berjualan buah-buahan berkeliling bertanya “bagaimana meraih mimpi kesuksesan usahannya.” Tuturnya. Pertanyaan serupa juga diajukan oleh Mas Cahyo seorang Tuli yang usaha ternak bebek dimana usahanya saat ini belum berkembang dengan baik. “Apa usaha yang sesuai untuk teman-teman tuli yang sesuai.”


Kedua narasumber menanggapi pertanyaan-pertanyaan, dengan menyampaikan  bahwa “Sebuah usaha apapun itu berawal dari mimpi. Mimpi-mimpi itu harus terus dibangun. Penyandang disabilitas pun yang memiliki keterbatasan harus punya mimpi, tetapi mimpi itu harus dibarengi dengan usaha dan  kreativitas untuk meraihnya. Setiap orang punya potensi, potensi itu harus ditemukan dahulu, setelah itu potensi itu diolah dan dikembangkan.” Terang Bu Nuli dan Pak Waluyo


Pada akhir sesi, Mbak Nuli mencontohkan jasa melipat kertas paperbag. Beliau mengatakan “saya siap memberikan pelatihan lanjut dan kerjasama jika anggota Pinilih berniat untuk ikut usaha melipat kertas tas.” Terang Nuli.  Sambutan kerjasama juga datang dari Pak Waluyo jika ada yang berniat menjadi reseler madu.