Kuliah Umum “Tantangan Implementasi Sistem Keamanan Pangan di Indonesia”

Keamanan pangan merupakan suatu keharusan. Pangan yang aman merupakan syarat utama dan pertama, selain dapat diterima secara sensoris dan bergizi. Untuk dapat memproduksi pangan yang aman, perusahaan harus menerapkan prinsip-prinsip Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) yang merupakan satu-satunya sistem yang dipercaya secara internasional dapat menjamin keamanan pangan yang diproduksi, karena inspeksi 100% dalam semua tahapan produsi tidaklah mungkin. Mengingat hal tersebut maka mata kuliah HACCP ditetapkan sebagai mata kuliah wajib di Program Studi Teknologi Hasil Pertanian (THP), Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY).


Untuk meningkatkan wawasan mahasiswa akan tantangan implementasi HACCP di Indonesia pada hari Jumat, 3 Januari 2020 telah dilaksanakan  Kuliah Umum dengan narasumber Ibu Riswahyuli, S.Si, M.P. dari BPOM Pusat didampingi oleh Pakar HACCP UMBY  (Ch. Lilis Suryani,S.TP,MP) dan hadiri pula oleh Ketua Program Studi THP (Prof. Dr. Ir. Dwiyati Pujimulyani, MP) dan para dosen serta mahasiswa sekitar 100 peserta, di kampus 1 Jln Wates UMBY.


Menurut Ibu Riswahyuli, perkembangan teknologi dan peningkatan persaingan perdagangan pangan secara global saat ini banyak menimbulkan potensi bahaya makanan karena peristiwa sabotase ataupun pemalsuan yang dapat terjadi diluar lingkungan perusahaan. Oleh karena itu sistem keamanan pangan (food safety) berkembang menjadi sistem pertahanan pangan (food defence). Mengingat perkembangan tersebut maka mulai tahun 2014, HACCP dikembangkan menjadi Hazard Analysis Risk-Based Preventive Control (HARPC).


Demikian pula di Indonesia peristiwa penyakit akibat makanan (food borne diseases)  masih tinggi. Hal ini karena implementasi HACCP khususnya di industri kecil dan menengah yang memproduksi makanan masih rendah. Hambatan atau tantangan dalam implementasi HACCP tersebut antara lain karena ketersediaan sumber daya manusia yang menguasai prinsip HACCP dan ketersediaan modal untuk menyediakan sarana dan prasarana pendukung masih rendah serta kompleksitas produk pangan yang tinggi.


Oleh karena itu BPOM selaku Badan Pengawas Makanan memberikan fasilitas untuk membantu perusahaan makanan dalam meningkatkan implementasi sistem keamanan pangan melalui tiga program pengawasan pangan yaitu  INARAC  (Indonesia Risk Assesment Center), Piagam Bintang Keamanan Pangan (PBKP), dan Piagam Program Manajemen Resiko (PMR). Melalui program Inarac perusahaan dapat saling bertukar info tentang kajian resiko keamanan pangan dan melalui program PBKP perusahaan didorong  untuk mengimplementasikan sistem keamanan pangan secara bertahap hingga dapat terakreditasi secara internasional, sedangkan melalui PMR perusahaan dapat berkonsultasi secara interaktif tentang regulasi yang berlaku dan penerapan manajemen resiko.


Berdasarkan paparan dari nara sumber tersebut maka peluang lulusan Program Studi THP sebagai tenaga ahli implementasi HACCP sangat luas karena sangat dibutuhkan oleh setiap perusahaan pangan. Untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan mahasiswa dalam implementasi HACCP maka selain perkuliahan secara teori mahasiswa secara berkelompok juga diwajibkan untuk menyusun rancangan implementasi HACCP pada industri pangan tertentu dipresentasikan dihadapan sesama mahasiswa dan pembimbing.