BEM FE UMBY Selenggarakan Seminar Nasional dan Talkshow

Revolusi industri 4.0 merupakan integrasi pemanfaatan internet dengan lini produksi di dunia industri. Perubahan pun terjadi dalam dunia industri dewasa ini yang ditandai berubahnya iklim bisnis dan industri yang semakin kompetitif karena perkembangan teknologi informasi mencakup sistem cyber-fisik, internet untuk segala, komputasi awan, hingga komputasi kognitif. Oleh karena itu, dunia pendidikan khususnya mahasiswa harus memiliki nilai tambah sesuai kebutuhan pasar kerja. 


Dengan demikian, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi (BEM FE) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY), menyelenggarakan Seminar Nasional dan Talkshow dalam rangka Dies Natalis Fakultas Ekonomi ke-33 di Auditorium kampus 3 UMBY, Sabtu (19/10). Hadir 3 pembicara Seminar Nasional, yaitu: Safitri Handayani,SH,Sp.N.M.Kn. (Kabag Perindakop dan UKM pada biro Perekonomian Setda Provinsi Jawa Tengah) ; Bapak Irvandias Sanjaya (CO Faonder Design of Dream); Bapak Puthut Indroyono (UGM), dan 2 pembicara Talkshow, yaitu: Bapak Arief Budiman (Founder Kuliner Jogja), Bapak Shauqy Nurul Aziz (Co Founder JalaTech).


Acara dibuka oleh wakil Dekan Fakultas Ekonomi, Mushawir, SE., MM. diikuti oleh 428 peserta dari berbagai kalangan dan mahasiswa. Kegiatan ini mengangkat tema “Melihat Peluang Bisnis di Era Revolusi Industri 4.0”  dan dikemas dengan Talkshow “From Idea to Success”.


"Selain unggul di bidang akademik, generasi saat ini juga harus berdaya saing tinggi. Persaingan di luar sana sangat ketat, apalagi sekarang sudah memasuki era masyarakat ekonomi ASEAN (MEA)," jelas Bapak Mushawir,SE,MM.


Ketua Panitia, Haposan Pandapotan Sitorus mengatakan bahwasanya era revolusi industri 4.0 membuat semakin luasnya akses dan cepatnya informasi. Maka dari itu mahasiswa dan generasi muda yang hidup di era industri 4.0 harus memiliki daya saing yang tinggi. 


Puthut Indroyon sebagai Keynote Speaker memaparkan hasil penelitian pusat studi ekonomi kerakyatan UGM bahwa untuk melihat peluang di era digital ini perlu mengubah perspektif dengan melihat fenomena yang ada dari perubahan yang sifatnya tradisional menjadi serba berbasis teknologi.


Demikian juga Irvandias Sanjaya dari CO Founder Design of Dream menjelaskan untuk memulai mengembangkan sebuah startup tidak harus dengan disiplin ilmu yang basisnya teknologi, berbekal hanya dengan apa yang menjadi passion, skill, dan menggali hal apa yang bisa memecah persoalan umum dengan passion kita.


Sementara itu Safiri Handayani , SH. Sp. N. M. Kn, Kabag Perindakop dan UKM pada biro Perekonomian Setda Provinsi Jawa Tengah yang mewakili Bapak H. Ganjar Pranowo.SH.M.IP (Gubernur Jawa Tengah) mengatakan di era yang serba teknologi ini banyak sekali peluang yang dapat di manfaatkan hanya dengan menggunakan gadged saja. Kita dapat mengakses dan melakukan transaksi maka dengan itu saja kita dapat menciptakan ketrampilan yang sifatnya kreatif dan inovatif.


Sementara itu berawal dari hobi dan juga analisis persoalan umum membuat  Arief Boediman Founder Kuliner Jogja dan Syauqy Nurul Co Founder JalaTech dan rekan-rekan mengembangkannya menjadi sebuah usaha  dalam membangun bisnis.


“Perlu kedisiplinan dan kerja keras,  naik turun tentu menjadi bagian dari proses membangun usaha, disamping itu, tetap harus melihat kekurangan-kekurangan dan memperbaikinya sehingga mampu mencapai pada titik kesuksesan tertinggi,” ungkap Arief Boediman.