LPPM UMBY Kreasikan Olahan dari Singkong, Jagung, dan Teh di Magelang

Tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) mengadakan sosialisasi dan pelatihan pengolahan ketela (singkong), jangung dan tek di wilayah Magelang. Dengan didanai oleh DIKTI melalui program PKW (Program Kemitraan Wilayah), tim UMBY yang terdiri dari Ir Setyo Utomo, MP, Ir Nur Rasminati, MP., dan Agustinus Hary Setiawan, MA., mengadakan sosialisasi olahan yang berupa jagung, singkong, dan teh sehingga dapat diolah dan dikreasikan menjadi makanan yang lebih menarik serta bernilai ekonomi lebih.


Program yang bertujuan pemetaan/kegiatan penanggulangan kemiskinan berbasis Desa yang secara geografis dua desa ini berbatasan dengan hutan Negara yang merupakan wilayah Gunung Sumbing sebelah Utara.


Program PKW yang dilaksanakan di desa Wonoroto dan Ngemplak berbasis sumber daya lokal untuk ditingkatkan menjadi produk unggulan. “Keunggulan desa Wonoroto adalah produksi ketela pohonnya yang lebih dari 20 ton per tahun, sedangkan desa Ngemplak adalah produksi jagung lokal dan teh lokal yang masing-masing dalam satu tahun menghasilkan sekitar 15-25 ton dan 1-2 ton untuk teh lokal olahan tradisional,” tutur Setyo Utomo, ketua tim.


Produk unggulan yang diharapkan akan menjadi produk “OVOP ; One Village One Product” ini sedang dirintis berupa sentra olahan nasi jagung instan dan teh lokal olahan untuk desa Ngemplak, dan olahan ketela pohon dalam bentuk “balung kuwuk”, ceriping aneka rasa, dan olahan kering lainnya seperti balok, dsb. Produk ini ditargetkan untuk tahun depan 2018 diharapkan sudah bisa memasuki pasar Magelang dan sekitarnya. 


Produk nasi jagung instan dan teh lokal olahan ini dikerjakan Ibu Safitri, Nuning dan Huda dan para pemuda pemudi, produk dikemas aluminium dengan berat/neto 500 gram.  Untuk teh lokal, yang sudah diproduksi bertahun-tahun oleh masyarakat Ngemplak, dengan tradisional sangat perlu ditingkatkan kualitas daunnya, karena hanya berasal dari tanaman teh liar tanpa budidaya, dan tanpa sentuhan teknologi. Untuk olehan ketela pohon di desa Wonoroto dimotori oleh siswa siswi SMK Ma’Arif Darul Mutadin Wonoroto, Kelompok Wanita Tani (KWT) yang produknya sudah mulai masuk ke pasar sekitar Windusari, demikian disampaikan oleh Agustinus Hari setiawan, SPd,M.A


Hampir semua produk yang diharapkan menjadi produk Unggulan tahun ini sudah mendapatkan sertifikat Penyuluhan IRT dari Dinkes Kabupaten Magelang, untuk tahun depan akan dilakukan sertifikat Paten Merk nya, demikian disampaikan Oesman Raliby,ST., M.Eng. dari UM Magelang sebagai PT Mitra.   Ketua tim PKW, Setyo Utomo yang mengusulkan agar Kabupaten Magelang bisa memfasilitasi pemasaran dengan perda yang mengatur kewajibannya toko-toko berjejaring/supermarket untuk menerima produk-produk masyarakat di wilayah kabupaten Magelang sebagai bentuk kepedulian terhadap program pengentasan kemiskinan. Usulan tersebut akan segera di nota dinaskan untuk selanjutnya diteruskan kepada Kepala Daerah, demikian diungkapkan oleh Wawan Riyadi selaku staf Bappeda yang membidangi kegiatan pengabdian kepada masyarakat.