UMBY Kembangkan “Growol Kulon Progo Hebat”

Growol merupakan makanan pokok khas Kabupaten Kulon Progo –DIY, khususnya di desa Kalirejo dan sekitarnya. Growoldiolah melalui tahap: pengupasan ubikayu, pengirisan, perendaman (fermentasi spontan) selama 3-5 hari, pencucian dan penghancuran serta penghilangan serat, pengepresan, pencacahan dan pengukusan. Selanjutnya growol dicetak  berbentuk kerucut dengan berat sekitar 5 kg dan dibungkus menggunakan daun pisang


Usaha pembuatan growol di desa Kalirejo dimulai pada tahun 1950-an dan merupakan usaha keluarga yang dikelola secara turun- temurun. Semula, setiap hari, pagi dan sore makanan utama penduduk desa Kalirejo adalah growol, dan nasi dikonsumsi satu kali pada siang hari. Pada satu dasa warsa terakhir terjadi penurunan konsumsi dan jumlah pengrajin growol serta pergeseran makanan pokok ke beras, namun sedikitnya masih terdapat dua dusun di desa Kalirejo terdapat yang masih melakukan aktivitas produksi growol yaitu dusun Sangon I dan Sangon II. Menurut Kepala Desa Kalirejo, hal ini disebabkan karena perubahan penggunaan lahan dari kebun ubikayu menjadi lahan pohon albasiah (sengon) yang secara ekonomis lebih menguntungkan  dan beralihnya generasi muda ke beras sebagai makanan pokok. Imbasnya adalah turunnya produksi growol dan meningkatnya konsumsi beras sebagai makanan pokok.  Padahal growolsebagai pangan pokok lokal dapat berfungsi sebagai pangan fungsional, karena mengandung bakteri Lactobacillus. Hasil penelitian Tim IbM (Ipteks bagi Masyarakat) Universitas Mercu Buana Yogyakarta menunjukkan bahwa growol mengandung bakteri asam laktat 4,7.103 cfu/g. Beberapa penelitian mendapatkan bahwa efek mengkonsumsi growol adalah menurunnya angka kejadian diare di masyarakat.


Pada tahun 2013 sampai dengan tahun 2016, Tim dari Universitas Mercu Buana Yogyakarta yaitu Dr.Ir. Chatarina Wariyah,MP dan Dr.Ir. Sri Luwihana,SU serta mahasiswa dari Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Agroindustri, Universitas Mercu Buana Yogyakarta telah melakukan kegiatan IbM dengan tujuan memperbaiki proses pengolahan growol agar kandungan Lactobacillus tetap tinggi, meningkatkan produksi dengan perbaikan alat dan sarana pengolahan serta menjaga proses pengolahan agar higienis. Tim IbM telah membentuk kelompok pengrajin growol dari dusun Sangon I dan Sangon II yang berjumlah 17 orang. Kegiatan yang dilakukan adalah dengan pelatihan dan praktek pengolahan growol yang baik, memberikan bantuan peralatan untuk pengolah dan pengemas growol, dan perbaikan sarana fisik seperti perbaikan lantai pengolahan dengan keramik. Peralatan yang telah diberikan antara lain pencetak dan alat pamasak growol dari stainless steel, pencacah mekanis dengan kapasitas 100 kg/40 menit (sebelumnya menggunakan bendo dengan kecepatan 100 kg/5 jam), alat pengepres stainless steel (sebelumnya menggunakan kayu) serta alat pengemas growol, dan masih banyak lagi. Semua peralatan diserahkan secara resmi kepada Kepala Desa Kalirejo yaitu Bapak Lana. Growol desa Kalirejo diberi nama “Growolkulon Progo Hebat” dengan ciri berat per kemasan 0,5 kg atau sekarang terkenal dengan nama “growol kecil” yang sekarang banyak ditiru oleh pengrajin di wilayah lain. Jadi growol desa Kalirejo menjadi pelopor growol dengan ukuran kecil yang tidak perlu diiris ketika dijual.


Untuk meningkatkan pemasaran growol, Tim IbM telah memperbaiki manajemen pemasaran serta mengikutsertakan dalam pameran pangan maupun expo. Dampak dari kegiatan IbM Universitas Mercu Buana Yogyakarta adalah meningkatnya permintaan dan produksi growol. Sebelum kegiatan IbM, rata-rata produksi growol desa Kalirejo sekitar 6,0 kuintal ubikayu per bulan. Setelah dilakukan pelatihan dan perbaikan proses maupun pengemasan, jumlah produksi meningkat menjadi 15 - 20 kuintal ubikayu per bulan. Pemasaran meluas sampai di desa sekitar Kalirejo dan banyak tengkulak datang. Daya tarik growol Kalirejo antara lain ukuran lebih kecil (“growol kecil”), growol dikemas dalam daun pisang dan mika (0,5 kg growol/kemasan) dengan rasa manis atau gurih. Pengrajin bahkan sampai menolak pemesanan ketika bahan dasar tidak mencukupi.


Keberadaan industri rumah tangga pengolahan ubikayu menjadi growol sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar dan dapat menjadikan pangan pokok kembali. Selain meningkatkan pendapatan penduduk, adanya industri rumah tangga pengolahan growol juga membuka lapangan usaha bagi masyarakat sekitar, sehingga diharapkan kelompok industri pengolahan growol makin berkembang. Untuk mendorong masyarakat wilayah desa Kalirejo, mengembangkan produksi growol dengan lebih intensif, maka perlu motivasi serta metode pemasaran yang benar. Dengan demikian kesejahteraan masyarakat dapat meningkat dan kemandirian daerah dapat tercapai dengan memanfaatkan sumber daya alam yang ada.